‘Building Your Future’ Biarkan Masa Depan Datang Sendiri

Jangan pernah mendahului sesuatu yang belum terjadi, dan apa yang akan terjadi siapapun tidak mengetahui. Hari esok adalah sesuatu yang belum nyata dan tidak dapat di lihat, semuanya masih gaib dan misteri. Tidak perlu menduga-duga, apalagi memastikannya.

Dalam agama Islam, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan masa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru dari menduga-duga, sikap meramalkan sesuatu yang berdasarkan angan-angan adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Namun faktanya sekarang ini banyak orang yang bersedih hati, kuatir, dan gundah gulana karena memikirkan masa depan, takut kelaparan, takut kemiskinan yang sebenarnya belum tentu terjadi. Lalu mengapa kita terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk memikirkan yang belum ada?

Dalam Al-Quran, Allah berfirman yang maknanya “setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia, (QS. Albaqarah: 268)”. Dari ayat tersebut Allah ingin mengajarkan kepada hamba-Nya untuk tidak termakan pada ramalan-ramalan ketakutan yang sengaja diciptakan untuk membuat orang-orang mengalami rasa frustasi dan meragukan Allah sebagai penjamin rizki yang cukup. Mereka sengaja menciptakan stimulus pesimisme dengan cara-cara kreatif dan logis untuk menguatkan premis buruk yang mereka ciptakan, begitu juga sebaliknya seperti pemberi harapan palsu. Dan itulah pekerjaan setan. “sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Dari fenomena di atas, penulis ingin menyampaikan pesan dan renungan terutama bagi penulis sendiri dan jika boleh bagi semua pembaca kompasiana agar tidak keliru dalam memaknai masa depan, apalagi sekarang ini adalah masanya dimana para orang tua dan siswa sedang memfokuskan diri memilih pendidikan lanjutan yang dilatarbelakangi oleh dorongan ‘masa depan’. Menurut hemat penulis, sebagian para orang tua dan siswa telah mengalami degradasi keyakinan terhadap janji Allah sebagai pemberi kehidupan, sebab itu pula memungkinkan terjadi disorientasi pendidikan di kalangan masyarakat dan terutama para pengambil kebijakan bidang pendidikan di negeri ini akibat ‘masa depan’. Lalu bagaimana sebaiknya kita maknai ‘masa depan’ itu?

Mempersiapkan Hari Esok

Ketika Allah SWT bertanya kepada manusia, apa yang telah kamu siapkan untuk hari esok mu? Pertanyaan ini mempunyai makna bahwa apa yang kamu harapkan dan kita dapatkan pada masa depan kita. Terminologi masa depan mungkin bisa didefinisikan secara berbeda-beda, sesuai tujuan pribadi masing-masing. Mengapa demikian? Karena masa depan berkaitan erat dengan subjek yang secara langsung didasari pada tujuan hidup seseorang.

Dalam rentetan waktu, setiap orang pasti akan mengalami proses perjalanan waktu tersebut, sejak dia lahir, kemudian bisa berjalan, merangkak remaja lalu kemudian mengalami masa pendewasaan sampai pada akhirnya secara materi kita meninggalkan dimensi waktu yang telah kita miliki. Gambaran tersebut merupakan bukti bahwa setiap kita pasti melewati masa lalu, masa sekarang dan akan menuju masa depan.

Secara sederhana masa depan dapat diartikan satu kondisi dan ruang waktu yang akan kita lalui sejak satu detik setelah sekarang. Ini berati juga bahwa masa depan itu dimulai sejak sekarang bukan nanti, tetapi satu detik setelah sekarang. Karena Allah SWT juga mempertanyakan tentang masa depan, maka  masa depan itu menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita berikan perhatian.

Masa depan mempunyai kaitan erat dengan cita-cita. Penulis memberikan makna cita-cita yakni merupakan sesuatu yang diharapkan dapat terjadi oleh seseorang pada suatu saat dikemudian hari. Harapan yang diperjuangkan untuk menjadi kenyataan. Dan dalam banyak pengalaman, cita-cita itu menjadi tujuan akhir dari sebuah episode kehidupan. Napoleon Hill seorang motivator mengatakan bahwa, “apa pun yang bisa dibayangkan dan diyakini oleh pikiran Anda, tentu bisa diraih. ”sebaliknya, jika  kita tidak bisa memiliki bayangan apa pun yang harus diraih, apa yang kita raih? Begitulah cita-cita.

Dengan kita memilki cita-cita, maka kita memilki tujuan hidup. Menurut Kamus Oxford Advanced Learner`s Dictionary of Current English (2000) dalam  Herry Tjahjono;The XO (2007) cita-cita sama dengan goal. Namun ada juga yang mengatakan namanya tujuan (objective). Tapi dalam praktiknya kebanyakan orang menyamakannya. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa sebuah goal atau cita-cita adalah semacam tujuan akhir.

Masa Depan Dimulai dengan Sebuah Harapan (Hope)

Harapan itu sangatlah penting dan bermanfaat bagi motivasi kita. Harapan, senantiasa mengarah kedepan, ke hari esok. Secara psikologis, dengan mengelola harapan kita akan mengeleminir berbagai hal yang kurang baik atau kontraproduktif di masa lalu, di kemudian hari. Beckhard & Haris dalam Hery Tjahjono (2007) bahkan menyarankan agar kita lebih terfokus ke masa depan daripada sibuk dengan masa lalu.

Price Pritchett (1994) juga mengatakan pentingnya harapan akan hari esok, katanya “Hope for tomorrow enables us to transcend the problems of today”. Perbedaan antara masalah dan kesempatan terletak pada yang namanya harapan. Menurut Pritchett, kesempatan sering datang dan menyamar dalam bentuk masalah atau kesulitan. Jika kita mampu melihat harapan yang terselip di tengah masalah atau kesulitan yang datang maka masalah itu sesungguhnya menjadi sebuah kesempatan (opportunity). Ini pula sesuai dengan firman Allah yang maknanya bahwa dalam setiap kesulitan ada kemudahan.

Maka, harapan mampu menjadi daya tarik untuk mendaki puncak kehidupan kita. Harapan menyelimuti kebutuhan dan keinginan, semua bermuara pada harapan terhadap diri sendiri. Harapan terhadap diri sendiri ini harus menuju pada sesuatu yang jelas dan tegas, yakni GOAL. Dengan memiliki goal maka hidup semakin bergairah dan semangat, karena setiap bangun tidur di pagi hari, dalam setiap langkah dan nafas kehidupan senantiasa ada yang kita tunggu-tunggu dengan penuh harapan.

Untuk memudahkan kita dalam meraih cita-cita, kita membutuhkan para pembimbing yang bertindak sebagai guru, dosen, pengajar, instruktur dan bahkan seorang mentor. Sebagian mereka yang mengajarkan kepada kita ilmu tertentu pada waktu tertentu. Namun terkadang seseorang memerlukan seorang pendamping melebihi peran guru yaitu mentor –mereka yang memiliki banyak pengalaman di bidang tersebut, yang benar-benar bisa memahami apa yang tengah kita lakukan, yang menyukai kita, dan kita pun menyukainya–, maka ia pun merelakan waktunya diambil untuk membimbing kita. Dengan bantuan seorang mentor, kita pun dapat mengendalikan navigasi masa depan dengan akurat.

Penutup

Jika kebun menjadi semarak dengan aneka buah yang ranum, itu karena bibit yang ditabur jauh sebelumnya”. Kata Yunsirno. Maka cita-cita adalah kebunnya dan harapan itulah pupuknya. Cita-cita dan harapan dapat menjadi kekuatan supranatural dalam metafisika spritualitas seseorang, keduanya mampu menghubungkan seluruh energi dan frekuensi yang ada. Harapan senantiasa menguatkan kita untuk selalu berpikir positif, ulet dan mendorong ke depan. Akhirnya kita pun sukses mewujudkan tujuan hidup.

Namun jika ada mereka yang sedih menatap masa depan adalah mereka yang menyangka dirinya akan hidup menderita, kelaparan, kemiskinan dan sebab itu mereka berputus asa. Padahal secara sadar kita mengakui hidup dan nyawa kita selalu dalam genggaman Allah SWT, Dia yang menciptakan dari tidak ada menjadi ada. Dan setiap kita juga meyakini bahwa saatnya pasti kita mati, tentu salah besar justru bila kita disibukkan dengan sesuatu yang belum ada dan tidak berwujud. Namun yang harus dilakukan adalah bagaimana melakukan persiapan dengan bangunan masa depan sebagai bekal perjalanan waktu kita. Dan menghindari angan-angan yang berlebihan.

Terakhir penulis ingin menutup tulisan ini dengan sebait lagu dari Nidji “menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang kuasa, cinta kita di dunia...” (ham)*

Reformasi ‘Aceh Carong’

Dalam visi dan misi Pemerintah Aceh, Gubernur Aceh Bapak Irwandi Yusuf mencanangkan tiga program utama terkait pendidikan, yaitu Aceh Carong, Aceh Meuadab dan Aceh Teuga. Program Aceh Carong menekankan kepada prestasi pendidikan Aceh ditingkat nasional, strategi yang ditempuh untuk meningkatkan prestasi tersebut melalui perbaikan fasilitas pendidikan, kualitas guru dan peningkatan sistem.

Menurut Gubernur Aceh, secara kualitas pendidikan Aceh berada pada peringkat ketiga terendah di Indonesia atau secara nasional, Provinsi Aceh berada pada urutan 32 dari 34 provinsi. Padahal bila dibandingkan dengan jumlah anggaran yang dikucurkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) mencapai rasio maksimal yaitu 20% dari total anggaran. (acehprov.go.id/28 Februari 2018). Sebab itulah kemudian program Aceh Carong dimunculkan untuk peu carong aneuk-aneuk Aceh.

Saya sangat bisa memahami kegalauan Bapak Gubernur dalam kapasitasnya sebagai pemimpin daerah agar rangking Aceh menjadi lebih baik di masa-masa yang akan datang, bagaimana tidak! Aceh yang sejak dulu diberikan gelar istimewa di bidang pendidikan namun justru selalu gagal dalam rangking terbaik nasional. Aceh yang dulu bahkan mengajarkan tenaga-tenaga pengajar dari negara lain namun justru sangat tertinggal dalam dunia pendidikan.

Saya juga sangat sepakat dengan saudara Affan Ramli yang dalam opininya “Tafsir Kuno ‘Aceh Carong’” (Serambi Indonesia, 14 Maret 2018) yang menuliskan bahwa “pemaknaan Aceh Carong tidak boleh sangat sempit, di mana indikator prestasi pendidikan Program Aceh Carong hanya diukur dengan nilai Ujian Nasional (UN) para siswa”. Namun haruslah lebih luas, bahwa konsep Program Aceh Carong mampu menggambarkan filosofi pendidikan Aceh secara menyeluruh dalam berbagai aspek, menuju penyiapan sumber daya manusia (SDM) Aceh yang mampu merespon perubahan zaman dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan dunia saat ini bahkan puluhan tahun yang akan datang dengan tetap mempertahankan indentitas ke-aceh-an dan nilai-nilai Islam dan iman, hingga mereka sanggup mengembalikan keharuman Aceh di pentas internasional seperti Aceh di masa kejayaannya. Dan dalam hal ini saya meyakini Pemerintah Aceh sudah menyiapkan cetak biru (blue print) pendidikan Aceh jangka panjang untuk mengakomodir keinginan dan cita-cita rakyat Aceh tersebut.

Program Aceh Carong haruslah dapat melahirkan siswa-siswi Aceh yang memiliki kualifikasi terbaik lahir batin, berkarakter, memiliki mental juang tinggi dengan semangat pantang menyerah alias “beuheu tungang” dan berakhlaqul karimah. Soft skill semacam ini sangat penting untuk dimiliki oleh generasi muda Aceh terkini, jiwa militan ke-aceh-an tidak boleh pudar karena pengaruh perubahan zaman. Selain penguatan bersifat soft skill, Program Aceh Carong juga harus dapat mencetak siswa-siswi yang memiliki keahlian dan keterampilan baik keterampilan di bidang umum maupun bidang khusus.

Dengan hard skill yang mereka dapatkan dari lembaga pendidikan, maka akan sangat bermanfaat untuk menunjang kehidupan mereka di masa depan. Dengan hard skill yang berkualitas akan memudahkan mereka untuk mengakses dunia kerja dan memperoleh pekerjaan. Apalagi pada 2030-2040, Indonesia di prediksi akan mengalami bonus demografi, di mana penduduk dengan usia produktif (mencapai 64%) lebih banyak dibandingkan dengan penduduk non produktif dari 297 juta jiwa penduduk Indonesia, maka persaingan hebat tidak dapat dihindari.

Pendidikan Vokasi sebagai Kunci

Untuk menjawab tantangan tersebut dan upaya mengantisipasi dampak negatif dari bonus demografi, maka selayaknya Pemerintah Aceh mulai membenahi sektor pendidikan vokasi. Menurut Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional pasal 15 disebutkan pendidikan vokasi yaitu merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal setara dengan program sarjana. Melalui pendidikan vokasi Program Aceh Carong akan berfokus pada peningkatan kualitas keahlian SDM yang memiliki kompetensi baik berstandar nasional bahkan internasional. Apalagi Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro juga mengatakan bahwa pendidikan vokasi mulai tahun 2018 menjadi program perioritas pemerintah bidang pendidikan (detik.com/22 Mei 2018).

Terobosan Gubernur Aceh membuka SMK Penerbangan merupakan satu langkah maju dalam konteks paradigma baru pendidikan Aceh masa depan. Apalagi dengan mengirimkan sebanyak 10 orang siswa-siswanya untuk magang di perusahaan penerbangan Boeing Amerika (Serambi Indonesia, 13 Maret 2018), tentu ini merupakan modal awal untuk mengembangkan lebih jauh sektor kedirgantaraan di Aceh suatu saat nanti. Menurut saya ini bukanlah program “cet langet”, tetapi cita-cita mulia dan harapan agar suatu saat nanti paling tidak maskapai penerbangan jamaah haji Aceh diterbangkan oleh pilot-pilot yang merupakan putra-putri Aceh sendiri. (jadi Bapak Gubernur maju terus dan kesampingkan suara-suara sumbang jika ada).

Di bidang pendidikan tinggi juga Pemerintah Aceh kiranya perlu mendorong agar kampus-kampus yang berbasis pendidikan vokasi semakin meningkatkan kualitas proses dan kualitas lulusannya, bahkan Gubernur Aceh harus memberikan perhatian yang lebih besar untuk memberdayakan sekolah-sekolah vokasi, baik dalam pengadaan laboratorium, alat-alat praktikum, meningkatkan kompetensi keahlian guru/dosen vokasi. Memperbanyak sekolah-sekolah kejuruan (SMK), mendorong dibukanya jurusan-jurusan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan realitas saat ini. Mendorong kerjasama pihak sekolah dengan dunia industri nasional bahkan luar negeri dalam bidang akademik, pemagangan dan penempatan kerja. mendirikan politeknik-politeknik bidang khusus dan lain sebagainya.

Kemenristek Dikti sendiri memasuki era revolusi industri 4.0 (generasi keempat) telah menetapkan pembenahan pendidikan vokasi menjadi salah satu strategi menekan potensi meningkatnya pengangguran terdidik. Seperti dilansir oleh media Indonesia.com. Menristek Dikti mengatakan “negara bisa maju karena politeknik (pendidikan vokasi) negara mana pun di dunia. Saya ingin menjadikan politeknik garis depan dalam perekonomian Indonesia”. Dengan kata lain negara maju sedikit pengganggurannya. Dan sayangnya selama ini institusi pendidikan kita lebih banyak melahirkan SDM yang tidak punya skill (keahlian) sehingga mereka menganggur.

Sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya sangat berharap kepada Gubernur Aceh agar konsep Aceh Carong dapat mengusung paradigma baru dengan perspektif yang unik, memenuhi ekspektasi para praktisi pendidikan dan pengguna lulusan. Sehingga siswa-siswi yang dilahirkan oleh Program Aceh Carong hendaknya adalah mereka yang mampu memberikan manfaat dan berdampak positif bagi kemajuan Aceh di masa yang akan datang. Sehingga apa yang dikuatirkan oleh saudara Affan Ramli dalam tulisan opininya tidak terjadi. Akhirnya semoga seluruh program dalam rencana kerja Gubernur Aceh dalam konteks Aceh Carong dapat terwujud dan terealisasi. Amiinnn.

Wirausaha Solusi Mengatasi Pengangguran

SEMANGAT wirausaha (entrepreneursip) sedang menggema dan ngetren di Indonesia beberapa tahun terakhir. Bukan hanya di kalangan praktisi bisnis bahkan di universitas-universitas, akademi, dan lembaga pendidikan bisnis mulai memberikan perhatian serius dengan mengembangkan bakat dan minat mahasiswa secara khusus melalui mata kuliah kewirausahaan untuk menyiapkan calon pengusaha di masa depan dan “mengarahkan” mereka agar menjadikan wirausaha sebagai satu pilihan hidup. Fenomena ini sangat positif.

Sebagai pilihan hidup maka seseorang harus menyiapkan sesuatunya dengan baik agar hasil yang didapat dari satu keputusan yang di pilih benar-benar memuaskan atau dengan kata lain tidak ada penyesalan di kemudian hari apalagi sampai “menyalahkan” Tuhan atas nasibnya yang mungkin saja ternyata berbeda dengan yang dibayangkan sebelumnya.

 Persiapan mental
“…Sesunggunya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan pada diri mereka sendiri..”(Ar-Ra`d:11).

Perubahan harus dimulai dari cara pandang dan cara berpikir yang kemudian diharapkan mampu mengubah tindakan dan perilakunya. Dalam konteks kewirausahaan, kesiapan mental adalah hal yang paling fundamental untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan terhadap rencana bisnis yang telah ditetapkan. Mengapa demikian? Karena memasuki dunia usaha akan selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan dan risiko terutama tantangan yang terdapat di luar diri wirausahawan (eksternal) yang membawa efek bagi calon wirausahawan (internal). Situasi dan kondisi yang demikian dinamis dan perubahan bisa terjadi dengan begitu cepat yang kemudian membawa dampak terhadap usaha yang dijalankan.

Beruntung kalau perubahan yang terjadi dapat memberi pengaruh positif akan tetapi jika dampak dari perubahan eksternal itu membawa pengaruh negatif maka di situlah mentalitas seorang wirausahawan sedang diuji. Bahkan jika kita cermati, banyak pengusaha besar sukses ternyata hanya berlatar pendidikan sekolah menengah dan bahkan ada juga yang hanya lulusan SD akan tetapi mereka mempunyai pemikiran dan sikap mental maju (Soesarsono, 1996). Bagi seorang muslim, sikap mental sukses dan maju pada hakikatnya merupakan konsekuensi dari tauhid dan buah dari kemuslimannya dalam seluruh aktivitas kesehariannya. “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga Aku menjadi akalnya yang ia berpikir dengannya”.(Hadits Qudsi). Karena itu seorang wirausahawan perlu membekali dirinya dengan mental berpikir positif,taktis dan strategis.

 Persiapan sikap dan perilaku
Aribowo Prijosaksono dan Sri Bawono dalam bukunya “The Power Of Entrepreneurial Intelligence” menuliskan sedikitnya ada tiga unsur penting dalam membangun sikap dan perilaku entrepreneur (wirausaha) dalam diri kita yakni destiny (takdir),courage (keberanian),dan action (tindakan).

Takdir (destiny) sebenarnya lebih merupakan tujuan hidup, bukan nasib. Dengan memiliki tujuan hidup maka kita mengetahui ke mana arah yang akan kita tuju dan itu akan menjadi cikal bakal penentuan takdir kita. Tujuan dan misi hidup adalah fondasi awal untuk menjadi seorang wirausahawan yang sukses. Dengan memiliki tujuan hidup (life purpose) yang jelas, maka akan melahirkan semangat dan sikap mental (attitude) yang dibutuhkan dalam membangun usaha.

Sehingga impian besar akan mampu diraih yang pada akhirnya dapat memberikan nilai tambah dalam kehidupan untuk meningkatkan standar dan kualitas hidup. Agama Islam mengajarkan umatnya bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk menyembah dan mengabdi kepada-Nya sehingga apa pun yang kita lakukan hendaknya haruslah mengarah kepada tujuan mendapatkan ridha-Nya. Sekurang-kurangnya menjadikan kehidupan kita hari ini lebih baik dari hari kemarin.

Maka kita perlu mempunyai keberanian untuk melakukan perubahan-perubahan dan terobosan-terobosan baru. Terutama pemerintah, bagaimana menyusun strategi pencapaian pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan menggerakan seluruh sumberdaya pengusaha yang telah ada seiring menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru.

Banyak sekali pemuda-pemudi Aceh yang mempunyai gagasan kreatif dan ide bisnis yang cemerlang, namun seringkali juga ide bagus tersebut tidak mampu mereka jalankan karena tidak adanya keberanian (courage) untuk memulainya karena takut menghadapi risiko kerugian atau kegagalan, sehingga kreativitas tersebut hanya menjadi angan-angan semata tanpa mampu direalisasikan. Maka tidak ada jalan lain untuk meraih kesuksesan, keberanian untuk melakukan dan mencoba (action) adalah hal yang mutlak.

Peran pemerintah
“Idealnya persentase wirausaha dalam sebuah negara untuk menggerakan ekonomi negara tersebut adalah 2% dari jumlah penduduknya, sementara pada tahun 2007 jumlah wirausaha Indonesia hanya baru mencapai 0,18% atau 400.000.-orang dan butuh waktu 30 tahun untuk mancapai 2%”. Agus Muharram Deputi Bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM (Bisnis Indonesia, 31 Januari 2011). Sementara Singapore jumlah wirausahanya 7,2% dan Malaysia 2,1%.

Kalau saja Pemerintah Aceh mampu menciptakan jumlah wirausahanya 2% dari 4,5 juta penduduknya atau hanya 90.000.-orang setiap tahunnya dan setiap wirausaha mampu mempekerjakan minimal dua orang saja maka jumlah angkatan kerja yang mampu diserap adalah 180.000.-tenaga kerja maka tingkat kemiskinan Aceh yang mencapai 21% (893 ribu) jiwa (data: BPS Aceh 2010) selama masa kerja lima tahun akan mampu diselesaikan, ditambah lagi pendapatan asli daerah dari retribusi dan pajak akan meningkat. Teori dasar mengatakan bahwa penyebab utama kemiskinan adalah pengangguran.

(Dimuat pada kolom Opini Harian Serambi Indonesia, 11 Oktober 2011)