Cara Sukses Menyelenggarakan Acara

Banyak orang tidak mengetahui apa yang menyebabkan sebuah acara bisa sukses atau pun gagal, kalau ia tidak pernah melaksanakan sebuah acara apapun. Acara sekecil apa saja dalam pelaksanaannya perlu dilakukan dengan baik, tertib dan terencana. Apalagi jika acara tersebut tergolong besar dan mengundang orang (tamu) dalam jumlah banyak, maka sudah seharusnya dipersiapkan secara matang sebelum dilaksanakan.

Untuk mewujudkan terselenggaranya sebuah acara dengan sukses, dewasa ini banyak perusahaan yang menawarkan jasa penyelenggaraan acara atau lebih dikenal dengan istilah event organizer (EO) kepada siapa saja yang membutuhkan. Para praktisi EO mengemas kemampuan mereka dalam mengelola pelaksanaan sebuah acara menjadi suatu peluang bisnis yang menguntungkan.

Jika kita melihat kecenderungan di kota-kota besar, masyarakat urban sudah sangat mengenal dengan jasa EO tersebut, bahkan kerap kali mereka menggunakan jasa EO dalam menyukseskan acara-acara penting yang mereka adakan. Mulai dari acara keluarga, acara bisnis (perusahaan), acara keagamaan, hingga acara lburan dan wisata.

Keberadaan pihak EO dibalik penyelenggaraan sebuah acara sangat mempengaruhi tingkat sukses atau gagal acara tertentu. Jika kompetensi EO sangat baik dan memiliki pengalaman yang banyak (jam terbang) dalam menangani proyek penyelenggaraan acara, maka hampir dapat dipastikan acara tersebut akan terlaksana dengan baik (sukses), sesuai dengan harapan.

Namun sebaliknya, kapasitas kompetensi EO rendah, maka potensi kegagalan penyelenggaraan sebuah acara sangat besar, apalagi jika EO belum memiliki pengalaman yang banyak tentang dunia penyelenggaraan acara.

Agar dalam mengelola sebuah penyelenggaraan acara tidak mengalami kegagalan, maka pihak EO perlu melakukan sebuah perencanaan dengan baik sebelum acara tersebut dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh persiapan dapat dilakukan dengan matang untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk yang mungkin dapat terjadi.

Dengan demikian tingkat kegagalan dapat dikelola secara lebih hati-hati dan dapat pula disiapkan berbagai langkah-langkah antisipasi. Inilah salah satu poin penting yang perlu mendapatkan perhatian dari praktisi atau pelaku EO dalam meningkatkan kapasitas profesionalisme mereka dalam industri EO.

Dalam rangka menyebarkan pengetahuan EO ditengah-tengah masyarakat, agar mereka lebih mengenal seluk beluk dunia EO. Politeknik Kutaraja Banda Aceh menggelar pelatihan singkat yang dilaksanakan di Auditorium kampus tersebut hari ini Sabtu, 21-07-2018, dengan menghadirkan pemateri tunggal praktisi EO Ismail, SE.,MM dari Jakarta.

Acara yang dibuka oleh Wakil Direktur I Bidang Akademik Bapak Syamsul Rizal, SE.,MM tersebut, pemateri menjelaskan dasar-dasar EO bagi 100-an orang peserta yang hadir dari berbagai kalangan. Menurut Ismail seorang EO harus memiliki kemampuan manajemen pengelolaan sebuah acara dengan baik, mempunyai pengalaman, relasi yang luas, dan yang paling penting adalah mereka memiliki kreativitas yang tinggi.

Ismail beralasan jika seorang EO tidak dapat menampilkan sesuatu yang baru dan menarik dalam menyelenggarakan sebuah acara, maka membuat acara tersebut monoton dan membosankan. Kondisi ini bisa berdampak tidak adanya kesan mendalam dibenak tamu para undangan yang menghadiri acara tersebut.

Oleh karena itu ia menyarankan agar sebelum kegiatan dilaksanakan, pelaksana acara atau EO perlu melakukan riset kecil untuk mengetahui hal-hal apa saja yang sedang tren di pasar, termasuk mengetahui mode atau desain yang sedang digandrungi oleh masyarakat saat ini. Riset kecil juga diperlukan untuk mengetahui situasi dan kondisi sebenarnya, baik kondisi alam, cuaca, situasi keamanan, dan sebagainya.

Jangan sampai seorang EO tidak mengetahui bagaimana keadaan terkini (baik internal maupun eksternal). Padahal dari berbagai penelitian ditemukan bahwa secara umum yang menjadi penyebab kegagalan pelaksanaan sebuah acara adalah EO tidak memiliki data dan informasi yang cukup dari sebuah acara yang ditanganinya.

Model 5W+1H

Lebih lanjut Ismail memberikan tips sederhana bagi peserta pelatihan yang rata-rata berusia muda itu, bagaimana menggunakan model 5W+1H sebagai kiat sukses menyelenggarakan acara oleh EO.

What; pada bagian awal, seorang EO perlu mengetahui secara baik apakah acara yang akan dilaksanakannya tersebut. Apakah acara konser musik, acara seminar, bisnis, pendidikan, kesehatan, olah raga, pesta perkawinan atau acara apa. Dengan mengetahui jenis acara, maka seorang EO dapat menawarkan sebuah konsep penyelenggaraan acara yang tepat.

Why; mengapa acara itu dilaksanakan? Pastinya setiap orang (klien) yang punya hajatan memiliki alasan tersendiri dalam melaksanakan sebuah acara. Pihak EO harus dapat memahami secara mendalam alasan pemilik acara agar dapat menciptakan kepuasan.

When; kapan acara tersebut dilaksanakan. Soal waktu harus dapat dipastikan sebelum tibanya hari pelaksanaan. Menurut Ismail pilihlah waktu yang aman, lihat situasi dan kondisi. Jangan sampai membuat sebuah acara outdoor padahal musim hujan. Atau membuat sebuah acara lomba dayung padahal lagi musim angina topan. Hal itu kurang tepat dalam memilih waktu jika dikaitkan dengan cuaca/musim.

Where; dimanakah acara akan diadakan? Pertanyaan ini perlu dijawab oleh seorang EO sebelum penyelenggaraan acara dilaksanakan. Memilih tempat yang menarik, sesuai dengan tema acara, tidak ada gangguan kemanan, kecil resiko bencana, dekat dengan akses transportasi atau mudah dijangkau, merupakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh EO.

Who; siapakah segmennya? Maksudnya adalah siapakah tamu yang menjadi target penerima layanan, termasuk siapa saja pihak berkepentingan dari acara tersebut. Hal ini ada kaitan erat dengan unsur lainnya dalam rangka menyiapkan konsep yang tepat serta sesuai yang harus dilakukan oleh EO.

How; bagaimana melaksanakannya. EO perlu merancang cara kerja teknis dengan sitematis sebelum hari H tiba. Menguasai teknis secara detil dapat menjadi kekuatan EO dalam menyelenggarakan acara untuk mencapai kesuksesan dan kepuasan semua pihak, terutama yang punya hajatan.

Pada akhir sesi, seluruh peserta berfoto bersama dengan narasumber dan pelatihan singkat tersebut itu pun ditutup dengan pembagian sertipikat oleh panitia.

Salam.[]

Pentingnya Akhlak dan Pendidikan Karakter

Oleh: Hamdani dan Yusra

Siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar saat melakukan kegiatan penguatan karakter di aula sekolah (20/3/2018)/Foto: dokpri

BANDA ACEH—Potongan kalimat Back to School sudah mulai terlihat dimana-mana,bahkan slogan tersebut telah menjadi tema menarik bagi beberapa perusahaan yang bergerak dalam industri pendidikan, semisal penerbit buku, toko buku, untuk menarik perhatian pelanggan mereka. Kempanye Back to School atau kembali ke sekolah sesungguhnya sangat berguna dan bermanfaat. Karena dapat mengingatkan para orang tua, murid, guru dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di negeri ini bahwa saatnya kembali ke sekolah dan meneruskan belajar segera dimulai.

Setelah masa liburan panjang semester akan segera berakhir dan proses penerimaan murid/siswa/mahasiswa baru pun sudah usai dilakukan. Tentu saja setiap sekolah yang telah menuntaskan proses seleksi peserta didik baru untuk tahun ajaran 2018/2019  telah siap menyambut tamu baru mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bagi sekolah yang mampu memenuhi target kuota penerimaan peserta didik baru, maka boleh bersenang hati karena berarti seluruh kelas yang tersedia memiliki siswa yang cukup. Namun sebaliknya sekolah yang kekurangan jumlah peminat tentu harus mencari strategi baru untuk menambah jumlah rombongan belajar (rombel) mereka.

Terlepas dari jumlah siswa atau peserta didik yang berhasil diperoleh oleh masing-masing unit sekolah pada berbagai jenjang pendidikan (dasar dan menengah) yang ada saat ini khususnya di Kota Banda Aceh cukup atau kekurangan, ada hal yang penting dan sangat urgen harus menjadi perhatian kita terutama guru/dosen dan orang tua murid/siswa/mahasiswa yaitu soal pendidikan akhlak (moral) peserta didik/mahasiswa dalam pendidikan berkarakter yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Sebagaimana dalam undang-undang sistim pendidkan nasional secara inplisit tersirat makna bahwa tujuan penyelenggaraan pendidkan bagi seluruh warga negara Indonesia pada hakikatnya adalah untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia yang memiliki karakter, watak serta berkepribadian yang baik, tangguh, ulet dan berwawasan kebangsaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi bangsa Indonesia siap menghadapi tantangan masa depan baik internal maupun eksternal (global) seperti kondisi saat ini.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pemeritah telah merancang sistim pendidikan nasional dengan menitik-beratkan output dan outcome-nya pada tiga aspek utama yaitu; aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap (attitude). Dengan pola ini diharapkan seorang peserta didik (murid/siswa) nantinya memiliki kualitas sumber daya manusia yang siap melakukan perubahan yang lebih baik bagi negeri ini di masa yang akan datang.

Dari ketiga aspek utama diatas menunjukkan bahwa proses pembentukan nlai-nilai pada peserta didik semakin masif dan dilakukan secara terstruktur. Memang nilai pengetahuan dirasa masih menjadi salah satu faktor fundamental dalam berbagai model pendidikan. Bagaimana pun tingkat intelektualitas akan membentuk pola pikir seorang anak. Dengan memiliki asupan pengetahuan yang cukup, maka ia akan mampu membangun pemikiran konstruktif dan positif bagi dirinya dan lingkungan di mana ia berada. Sehingga mereka akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Karena begitu pentingnya kualitas intelektual yang harus capai oleh para peserta didik, maka tidak heran jika institusi pendidikan kita dewasa ini cenderung lebih memperhatikan aspek pembelajaran yang mengutamakan konten/materi pelajaran atau akademik daripada aspek lainnya. Sebagai contoh, seorang murid/siswa yang memiliki nilai akedmiknya tinggi dapat dipastikan ia akan naik kelas meskipun apek moralnya (akhlak) dibawah standar. Sebaliknya seorang murid/siswa yang memiliki prilaku yang baik, sopan, (akhlak), namun nilai pengetahuannya rendah (dibawah standar), maka Insya Allah dijamin ia akan tinggal kelas.

Fenomena seperti itu kerap terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini, dan sayangnya peserta didik yang nilai pengetahuannya rendah bahkan dianggap/divonis sebagai anak bodoh meskipun mereka cerdas secara moral (akhlak). Nah lalu pertanyaannya adalah bagaimanakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter yang didengung-dengungkan oleh pemerintah dan institusi pendidikan kita?

Pendidikan karakter yang terlupakan

Secara konsep model pendidikan karakter sangat ideal dan relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan serta visi dan misi bangsa Indonesia dewasa ini, bahkan jika model tersebut berhasil dilaksanakan dengan sempurna, maka sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan memiliki keunggulan dari SDM bangsa lain.

Sekedar membuka catatan kita, pada tahun 2009 pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional menggulirkan wacana pendidikan karakter. Wacana ini bertujuan mengatasi kerusakan moral yang semakin melanda bangsa ini, terutama remaja atau generasi muda. Pendidikan karakter pada dasarnya lahir disebabkan oleh hilangnya aspek nilai moralitas dalam dunia pendidikan kita. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sekolah lebih mementingkan pengembangan intelektualitas atau mengabaikan pembinaan akhlak (moral) secara serius dan terstruktur pula.

Padahal nilai-nilai akhlak (moral) sangat penting untuk menjamin kejujuran, ketertiban, keamanan, kedisiplinan, keadilan dan keharmonisan dalam hubungan sosial serta interaksi dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah (masyarakat). Apalah artinya seseorang memiliki kecerdasan intelektual tetapi mempunyai akhlak yang buruk. Banyak pejabat di negeri ini yang terjerat kasus korupsi hukan karena mereka bodoh (intelektulitas rendah) tetapi karena moralnya rusak.

Maka, jika kita berkaca pada model pendidikan Rasulullah Saw pada periode awal masa kerasulannya, sebelum beliau mengajarkan tentang keimanan (tauhid), terlebih dahulu Rasulullah melakukan perbaikan akhlak (moral) para sahabat dan ummat Islam. Bahkan banyak kaum quraisy yang kemudian memeluk Islam dikarenakan ketertarikan mereka terhadap budi pekerti (akhlak) Rasulullah Saw. Ketika moral atau ahlaknya telah bagus, maka aspek yang lain dengan mudah dapat dibentuk. Bagaimana seorang anak didik memiliki motivasi belajar tinggi jika mereka tidak mempunyai kedispilan yang baik.

Lalu bagaimanakah metode pendidikan karakter yang efektif? Pertama sekali ketika kita bicara tentang pendidikan karakter, maka kita bicara tentang moral atau akhlak seperti apa yang ingin ditanamkan dalam pendidikan tersebut. Setelah itu kemudian kita mencari dan menentukan metode yang tepat dalam melakukan prosesnya. Inti daripada pendidikan karakter sesungguhnya adalah bagaimana seharusnya memanusiakan manusia.

Mengutip Wikipedia “pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.”

Menurut Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Anas M. Adam mengatakan, pembangunan kualitas manusia Indonesia harus disertai dengan pelaksanaan pendidika karakter. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan karakter bangsa. (kompas.com, 22/11/2017)

Dari penjelasan Anas M.Adam tersebut diatas jelas bahwa pemerintah memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan pendidikan karakter sebagai basis pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Maka menurut Anas M. Adam  “keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah akan sangat tergantung pada peranan guru di sekolah, guru-guru selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, mereka juga harus mengisinya dengan pendidikan karakter yang sesuai dengan tema pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran.” Jadi strategi utama proses pendidikan karakter adalah guru/dosen.

Mendidiklah dengan hati

Barbara Harell Carson pernah berkata “students learn what they care aobut, from people they care about and how who, they know, care about them.” Kurang lebih dapat dimaknai bahwa siswa akan belajar terhadap apa yang mereka peduli tentangnya, dari orang-orang yang peduli pada mereka dan peduli tentang mereka. Pesan Barbara ini hanya memiliki satu kata kuci yaitu peduli.

Penting sekali bagi guru/dosen untuk memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap peserta didiknya, dengan kepedulian tersebut guru/dosen dapat menilai proses perubahan dan perkembangan mereka dari waktu ke waktu dalam setiap fase belajar. Dari sinilah segala kekurangan dapat diperbaiki menuju hasil yang lebih baik.

Menurut kami cara yang paling efektif bagi guru/dosen menanamkan akhlak yang baik pada peserta didik pada model pendidikan karakter adalah menunjukkan ketauladanan terutama sikap baik/contoh ketauladanan para guru/dosen dan seluruh warga sekolah/kampus pada peserta didik dengan jujur (sebenarnya) dan tidak munafik. Tidak boleh sekali-sekali guru/dosen memperlihatkan sikap dusta kepada peserta didik sementara ia meminta murid/siswa/mahasiswa berlaku jujur.

Model pendidikan akhlak yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw dalam pergaulannya dengan para sahabat bahkan dengan musuhnya sekalipun dapat menjadi best practice bagi guru/dosen dalam upaya membangun karakter (character building) peserta didik sejak dini (TK/murid SD/siswa SMP). Beliau selalu menunjukkan sikap dan perbuatan baik dalam setiap interaksi, mulai dari ucapannya yang sopan, lemah lembut, berkata jujur sampai saat marah pun beliau masih menunjukkan etika yang mulia, subhanallah!

Sifat seperti Rasulullah tersebut mencirikan bahwa mendidik bukan hanya dengan sejumlah teori dan memasok pengetahuan (sains), namun bagaimana transfer ilmu yang dilakukan oleh guru/dosen juga dibarengi dengan pembentukan akhlak (morality) yang padu padan dengan kepribadian, keterampilan, yang dimliki oleh para peserta didik.

Memang selama ini para guru telah melakukan proses pendidikan karakter ini dengan baik. Dapat kita lihat setiap pagi ketika awal jam sekolah, para guru dengan setia menunggu murid/siswa didepan gerbang sekolah dan mereka salami satu persatu murid/siswa yang datang. Namun hendaknya contoh sikap mulia yang ditunjukkan ini bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan sekolah atau sekedar melepaskan kewajiban. Akan tetapi benar-benarlah datangnya dari rasa peduli guru terhadap anak-anak. Oleh sebab itu, ketika bersalaman hendaknya guru juga menanyakan kabar anak-anak, keluarganya, apa sudah sarapan atau belum jika itu masih pagi hari. Begitulah cara menyentuh hati mereka dan mendekatkan diri dengan anak-anak. Wallahu bishawab.

Penulis: Yusra, S.Ag Guru Bidang Studi Bahasa Inggris pada SMPN 2 Banda Aceh, Hamdani, SE.,M.Si, Dosen Politeknik Kutaraja Banda Aceh