Politeknik Kutaraja Kembali Menerima Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2019/2020

Poster Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Kutaraja

Meskipun tahun ajaran baru 2019/2020 belum dimulai. Namun Politeknik Kutaraja Banda Aceh sudah membuka masa penerimaan mahasiswa baru untuk angkatan kedua yang dimulai sejak bulan Februari 2019 sampai Oktober 2019 nantinya.

Dengan kampusnya yang terletak dijalan Syiah Kuala No 10 Jambo Tape tersebut, Politeknik Kutaraja membuka lebih cepat penerimaan mahasiswa baru agar masa rekrutmen calon mahasiswa ini jadi lebih panjang. Biasanya masa penerimaan mahasiswa baru akan berakhir pada bukan Oktober sesuai dengan batas akhir pelaporan ke Kemenristek Dikti.

Sebagai kampus swasta yang memiliki slogan Expert & Professional, Politeknik Kutaraja menawarkan sejumlah inovasi dalam kurikulumnya. Dengan kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) menjadikan Politeknik Kutaraja dapat menciptakan lulusan yang unggul.

Selain kurikulum yang dirancang untuk menciptakan lulusan yang berkualitas, kampus yang berciri khas uniform merah maron itu juga membekali mahasiswanya dengan standar kompetensi. Politeknik Kutaraja sangat menekankan agar lulusan memiliki keahlian khusus saat selesai kuliah nantinya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, maka dalam proses belajar mengajar, Politeknik Kutaraja menerapkan dan memadukan kurikulum KKNI dengan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) untuk menghasilkan lulusan yang siap bekerja.

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) adalah rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan.

Sehingga karena itulah menempuh pendidikan di Politeknik Kutaraja sama dengan akan mendapatkan skil atau keahlian yang dibutuhkan di dunia kerja. Sebab kenapa? Karena SKKNI merupakan kurikulum pelatihan kerja dan akademik.

Keunggulan kuliah di Politeknik Kutaraja adalah mahasiswa akan didik oleh para dosen, praktisi, dan instruktur yang berpengalaman dibidangnya. Dan semua sudah bergelar master pada usia relatif muda. Sehingga mahasiswa akan mendapatkan bukan hanya pengetahuan namun juga pengalaman.

Selain itu dengan akses kampus yang sangat mudah karena terletak ditengah-tengah kota. Membuat calon mahasiswa tertarik memilih menempuh pendidikan tinggi mereka di Politeknik Kutaraja. Karena dengan lingkungan yang mudah dijangkau dapat membuat pengeluaran mahasiswa jadi lebih irit.

Oleh karena itu, manajemen Politeknik Kutaraja sangat optimis bahwa keberadaan kampus vokasi ini akan dapat mendorong pendidikan anak-anak Aceh akan lebih baik dan maju. Sehingga akan melahirkan generasi muda yang lebih hebat, berkompeten, dan mampu berdaya saing.

Untuk membantu meringankan beban biaya pendidikan yang saat ini dirasakan begitu mahal, Yayasan Pendidikan Sarana Ilmu Kutaraja (YSPSIK) memberikan bantuan biaya pendidikan dalam bentuk beasiswa. Meskipun masih dalam jumlah terbatas namun cara ini sangat membantu ekonomi orang tua calon mahasiswa.

Jalur beasiswa YPSIK seperti tahun lalu dibuka melalui jalur tes khusus. Selain tes tulis juga dilakukan tes wawancara yang dilaksanakan oleh tim yang dibentuk oleh pihak yayasan dan manajemen Politeknik Kutaraja.

Buka Empat Program Studi

Saat ini Politeknik Kutaraja sudah memiliki empat program studi dengan jurusan-jurusan yang masih menjadi kebutuhan dunia kerja. Dari semua program studi tersebut memiliki jenjang yang berbeda.

Dua program studi jenjang diploma empat (D4) atau setara sarjana terapan dan dua program studi lagi jenjang diploma tiga (D3). Semua program studi tersebut adalah ilmu terapan.

Untuk program studi D4 ada Manajemen Keuangan Sektor Publik atau disingkat MKSP dan ada Analis Keuangan atau disingkat dengan ANK. Kedua program studi ini merupakan yang pertama di Indonesia. Bahkan tidak banyak perguruan tinggi yang membuka program studi tersebut meskipun permintaan lulusan pada sektor ini cukup tinggi.

Sedangkan untuk program studi D3, Politeknik Kutaraja mempunyai jurusan Akuntansi dan D3 Administrasi Perkantoran atau ADP. Walaupun program studi Akuntansi sudah banyak dibuka diberbagai perguruan tinggi namun untuk jenjang D3 hanya ada di Politeknik Kutaraja. Bahkan di Universitas Syiah Kuala (USK) D3 Akuntansi sudah tidak dibuka lagi sejak tahun ini.

Sehingga peluang bagi calon mahasiswa yang berminat untuk kuliah di D3 Akuntansi sangat besar. Dan yang paling penting adalah lowongan kerja lulusan D3 Akuntansi masih terbuka lebar. Bahkan jika kita lihat di media massa hampir setiap hari dibutuhkan tenaga kerja lulusan Akuntansi dan D3 Administrasi Perkantoran.

Bagi calon mahasiswa yang masih bingung memilih kuliah di perguruan tinggi mana, tentu sangat disarankan untuk mendaftar diri di Politeknik Kutaraja. Atau bisa juga berkonsultasi terlebih dahulu dengan tim PMB Politeknik Kutaraja untuk menghilangkan berbagai macam keraguan.

Soal biaya semua dapat dinegosiasikan. Karena di Politeknik Kutaraja tidak mengenal berbagai macam biaya. Dengan menerapkan sistim Uang Kuliah Terpadu (UKT), mahasiswa tidak perlu mengeluarkan biaya macam-macam. Bahkan di Politeknik Kutaraja memberikan seragam gratis bagi mahasiswanya.

Segera berkunjung kampus Politeknik Kutaraja setiap hari dan jam kerja untuk mendapatkan informasi lebih detil dan lengkap. Melalui tim marketing kami, Anda akan dilayani dengan baik, ramah, dan bersahabat. Atau dapat juga Anda berkomunikasi via WhatSapp dan email resmi Politeknik Kutaraja.

Atau Anda bisa juga berkunjung ke website Politeknik Kutaraja di www.poltekkutaraja.ac.id untuk mendapatkan informasi yang lebih up to date. Baik mengenai program studi, sarana prasarana kampus, akreditasi, profil perguruan tinggi dan lain-lain. (*)

Seminar | Keterlibatan Perempuan dalam Proses Pengambilan Keputusan dan Pemenuhan Haknya

Ilustrasi foto: siswi SMAN 11 Banda Aceh (dokpri)

Partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan telah menerima perhatian yang signifikan di beberapa wilayah di Indonesia. Itulah tema seminar yang coba diangkat oleh LSM Natural Aceh, Selasa (12/2/2019) bertempat di Auditorium Politeknik Kutaraja.

Hal ini dibuktikan dari meningkatnya keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dan proses perencanaan pembangunan dalam musrenbang (musyawarah perencanaan pembangunan), forum musyawarah tahunan para pemangku kepentingan, baik ditingkat gampong/desa, kecamatan, kabupaten/kota, propinsi dan tingkat nasional.

Keterlibatan perempuan masih dianggap kurang terwakili dalam posisi pengambilan keputusan, terutama perempuan dalam kategori marjinal, seperti perempuan ekonomi prasejahtera (miskin) dan penyandang disabilitas, serta perempuan terdampak konflik, kekerasan dan bencana.

Hal ini menyebabkan implementasi dari proses perencanaan dan pembangunan menjadi bias gender dan tidak inklusif, dimana inklusif memiliki syarat lingkungan sosial positif, kemerataan dalam sosial ekonomi, aksesibilitas dan keterjangkauan lingkungan fisik.

Kebijakan inklusif mampu menempatkan kelompok rentan sebagai bagian dari keberagaman dan mampu berperan sosial, memberikan kontribusi secara positif dalam pembangunan nasional.

Indonesia memiliki kerangka kebijakan untuk peningkatan kesetaraan gender, masyarakat miskin dan rentan dan komitmen nyata dalam pembangunan yang inklusif terhadap disabilitas.

Hal ini mencakup pernyataan kesetaraan dalam Konstitusi Republik Indonesia (Undang-undang Dasar 1945), ratifikasi Konvensi PBB tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women – CEDAW) dan ratifikasi Konvensi PBB tentang Hak-hak Kaum Penyandang Disabilitas (UN Convention on the Rights of Person with Disabilities) tahun 2011 serta Undang-undang no 8 tahun 2016 mengenai hak-hak penyandang disabilitas.

Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 9/2000 mengenai “Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional” untuk mengharuskan pengarusutamaan isu-isu gender dalam lembaga negara dan program-programnya pada semua tahap pembangunan: yakni perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi untuk semua latar belakang perempuan tanpa diskriminasi baik tingkat nasional, provinsi maupun daerah.

Pemerintah Kota Banda Aceh sendiri terus berupaya melakukan peningkatan partisipasi perempuan dengan melakukan inovasi Musyawarah Rencana Aksi Perempuan dan Anak (MUSRENA) melalui peraturan walikota Banda Aceh No 52 tahun 2018.

Diharapkan nantinya disamping sebagai sarana dan wadah untuk memperluas partisipasi perempuan dalam proses perencanaan pembangunan, Musrena ini juga sekaligus sebagai suatu mekanisme untuk mempercepat terealisasinya Pengarus-Utamaan Gender (PUG) dalam segala bidang pembangunan sesuai dengan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomer 9 Tahun 2000.

Prinsip dasar yang dijadikan pedoman dalam pelaksanaan Musrena di Kota Banda Aceh meliputi prinsip kesetaraan, anggaran yang berkeadilan gender, musyawarah dialogis, anti dominasi, keberpihakan kepada kelompok rentan, anti diskriminasi, dan pembangunan secara holistik.

Namun dari berbagai informasi dan data yang diperoleh, masih banyak masyarakat yang menilai bahwa partisipasi perempuan di Aceh dalam kategori marjinal masih kurang, sehingga pemenuhan hak-haknya masih terus diupayakan dengan maksimal.

Di tingkat Provinsi, Aceh saat ini telah memiliki pergub yang mengatur kesejahteraan sosial, yaitu Qanun Aceh no.11 tahun 2013; Qanun Aceh no.7 tahun 2014 tentang ketenagakerjaan, serta beberapa kebijakan lainnya yang terus diupayakan berpihak kepada perempuan, terutama kelompok marjinal.

Terlebih lagi, saat ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah mulai mengadopsi tujuan pembangunan berkelanjutan atau suistanable development goals (SDGs) dan telah dalam tahap implementasi, diantaranya menerapkan gender equality (kesetaraan gender), no poverty (tidak ada lagi kemiskinan), decent work and economic grow (pekerjaan layak dan dan pertumbuhan ekonomi) dan reduce inequalities (menurunkan tingkat ketidaksetaraan) dengan tujuan mencapai kesejahteraan, keadilan sosial dan advokasi.

Atas berbagai pertimbangan di atas, Natural Aceh yang saat ini memiliki program Women, Peace and Security bekerjasama dengan Politeknik Kutaraja berharap bisa membantu mensosialisasikan dan memfasilitasi kebijakan, program atau target-target yang akan dan telah dilakukan pemerintah, terutama pemerintah daerah Kota Banda Aceh dengan berbagai inovasi dan rencana kerjanya.

Sebagai salah satu mitra pemerintah, Natural Aceh tetap komit bersanding dengan pemerintah dalam hal pembangunan (fisik dan non fisik) untuk mencapai kualitas, kesejahteraan dan kesetaraan masyarakat yang lebih baik kedepannya dalam bidang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, sosial, life skill, kepemudaan, bidang perempuan, kebencanaan sampai kelompok marginal dan akar rumput.

Sebagai salah satu wujud dukungan Natural Aceh bersama Politeknik Kutaraja dalam menjembatani pemerintah dan masyarakat, Natural Aceh telah melakukan serangkaian advokasi, FGD, seminar dan seminar dalam berbagai bidang termasuk pada program WPS ini, dan akan terus berlansung sampai akhir tahun 2019.

Bekerja sama dengan mitra perguruan tinggi, Politeknik Kutaraja Banda Aceh, Lembaga Riset dan Pelatihan Natural Aceh mengadakan seminar yang bertujuan untuk: (1) Memaparkan langkah-langkah terobosan untuk menguatkan keterlibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan dalam pemenuhan hak-haknya dan (2) Menyusun rencana strategis peningkatan partisipasi inklusif dalam tujuan pembangunan berkelanjutan atau suistanable development goals (SDGs) yang terkait yaitu SDGs 5 (gender equality, SDGs 1 (no poverty) dan 10 (reduce inequalities).

Kegiatan ini akan melibatkan perwakilan dari lembaga, beneficiaries dan instansi pemerintahan sebagai pemateri, yaitu Bappeda Kota Banda Aceh (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) dan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB). Kegiatan ini akan dipandu oleh tim fasilitator yang berkompeten, yaitu Ibu Riswati M.Si dari lembaga Flower Aceh. (*)

Baca Ini Jika Tidak Ingin Menjadi Pengangguran

Sosialisasi pendidikan tinggi vokasi di SMAN 12 Banda Aceh, Kamis (24/1/2019)

Tingkat pengangguran di Aceh masih tergolong tinggi, bahkan tertinggi di Sumatera. Penyebab utama pengangguran karena banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki keahlian dan keterampilan. Sehingga kesulitan dalam mendapatkan peluang kerja.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah telah menetapkan pendidikan tinggi vokasi sebagai program prioritas. Dalam pendidikan vokasi, mahasiswa difokuskan pada penguasaan keahlian dan keterampilan sebagai lulusan yang siap bekerja dan bahkan mampu membuka lapangan kerja.

Politeknik Kutaraja merupakan lembaga pendidikan vokasi. Melalui pendidikan vokasi, Politeknik Kutaraja akan melahirkan sumber daya manusia yang memiliki skill, berintegritas, dan berkarakter dengan kurikulum yang berbasis KKNI dan SKKNI. Sehingga lulusan Politeknik Kutaraja akan mudah mendapatkan kerja karena kompetensinya sesuai dengan kebutuhan industri, perkantoran dan dunia kerja.

Memilih kuliah di Kampus Politeknik Kutaraja merupakan pilihan yang tepat di era revolusi industri 4.0, karena penyelenggaraan pendidikan dengan sistim teknologi informasi. Mulai dari pelayanan akademik sampai proses belajar mengajar menggunakan sarana ICT.

Selain itu tenaga pengajar, instruktur, dan dosen pun lebih banyak dari kalangan praktisi dan profesional muda yang sudah berpengalaman dibidangnya. Rata-rata mereka lulusan master baik dari dalam maupun luar negeri.

Segeralah bergabung di Politeknik Kutaraja dan dapatkan kesempatan untuk memperoleh beasiswa yang kami sediakan. Ada beasiswa Bidikmisi, beasiswa Pengembangan Prestasi Akademik (PPA) dari Kemenristek Dikti, beasiswa YPSIK. Serta program-program pengembangan karir kamu dimasa depan. Karena visi kami adalah menciptakan lulusan yang profesional, berjiwa wirasusaha, dan berdaya saing global.

Sebagai informasi tambahan, Politeknik Kutaraja saat ini sudah melakukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dan politeknik yang ada di Malaysia, Korea, dan Indonesia. Itulah cara kami mewujudkan visi Politeknik Kutaraja menuju kampus go internasional. (*)

Bagaimana Melakukan Uji Asumsi Klasik Pada Model Regresi Linear?

Ilustrasi foto | pexels.com

Model regresi linear berganda atau multiple regresion (bukan linear sederhana) dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi kriteria Best Linear Unbiased Estimator (BLUE). BLUE dapat dicapai bila memenuhi asumsi klasik.

Sedikitnya terdapat 5 uji asumsi klasik yang harus dilakukan terhadap suatu model regresi linear tersebut yaitu; uji normalitas, uji autokorelasi, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas, dan uji linieritas. Mari kita lihat satu persatu.

Uji normalitas

Cara yang sering digunakan dalam menentukan apakah suatu model berdistribusi normal atau tidak hanya dengan melihat pada histogram residual apakah memiliki bentuk seperti “lonceng” atau tidak.

Cara ini menjadi fatal karena pengambilan keputusan data berdistribusi normal atau tidak hanya berpatokan pada pengamatan gambar saja. Ada cara lain untuk menentukan data berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan rasio Skewnes dibagi dengan standar error Skewnes.

Sedangkan rasio kurtosis adalah nilai Kurtosis dibagi dengan standar Kurtosis. Sebagai pedoman, bila rasio Kurtosis dan Skewnes berada diantara -2 hingga 2, maka data adalah normal.

Uji autokorelasi

Pada uji ini ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi. Pertama; uji Durbin-Watson (DW test). Uji ini digunakan hanya untuk autokorelasi tingkat satu (level 1) atau first order autocorrelation dan mensyaratkan adanya intercept dalam model regresi dan tidak ada variabel lag di antara variabel penjelas.

Keputusan ada tidaknya autokorelasi apabila; nilai DW berada diantara du sampai dengan 4-du, maka koefesien autokorelasi sama dengan nol. Artinya tidak ada autokorelasi.

Apabila DW lebih kecil daripada du koefesien autokorelasi lebih besar daripada nol. Artinya ada autokorelasi positif. Bila nilai DW terletak diantara dL dan du maka tidak dapat disimpulkan.

Sedangkan bila nilai DW lebih besar daripada 4-du koefesien autokorelasi lebih besar daripada nol. Artinya ada autokorelasi negatif. Dan bila nilai DW terletak diantara 4-du dan 4-dl maka tidak dapat disimpulkan.
Dengan menggunakan derajat kepercayaan 5 persen maka model ini dapat ditentukan apakah memiliki autokorelasi atau tidak.

Uji multikolinieritas

Ada beberapa cara untuk melakukan uji multikolinieritas pada sebuah model. Diantaranya uji VIF dan Uji Korelasi. Uji VIF dilakukan hanya dengan melihat nilai VIF untuk masing-masing variabel lebih besar dari 10 atau tidak. Bila nilai VIF lebih besar dari 10 maka diindikasikan model tersebut memiliki gejala multikolinieritas.

Cara lainnya adalah dengan melakukan uji partial correlation. Cara ini adalah dengan melihat keeratan hubungan antara dua variabel penjelas atau yang lebih dikenal dengan istilah korelasi.

Untuk menentukan apakah hubungan antara dua variabel bebas memiliki masalah multikolinieritas adalah dengan melihat nilai signifikan (2-tailed), jika nilainya lebih kecil dari 0,05 (a=5%) maka diindikasikan memiliki gejala multikolinieritas yang serius.

Uji heteroskedastisitas

Untuk uji heteroskedastisitas, seperti halnya uji normalitas, cara yang sering digunakan dalam menentukan apakah suatu model terbebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak hanya dengan melihat pada Scatter Plot dan dilihat apakah residual memiliki pola tertentu atau tidak.

Cara ini menjadi fatal karena pengambilan keputusan apakah suatu model terbebas dari masalah multikolinieritas atau tidak hanya berpatokan pada pengamatan gambar saja tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Banyak metode statistik yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu model terbebas dari masalah heteroskedastisitas atau tidak, seperti misalnya uji white, uji park, uji glejser, dan lain-lain.

Uji linearitas

Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan. Uji ini biasanya sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau regresi linear.
Demikian sedikit tentang ulasan bagaimana melakukan uji asumsi klasik dalam model regresi linear. Semoga ada manfaatnya.(*)

Dosen Politeknik Kutaraja Mengikuti Workshop Penulisan Jurnal Ilmiah

Dosen Politeknik Kutaraja, Aceh mengikuti kegiatan penulisan karya tulis ilmiah yang diadakan di kampus setempat, Sabtu (1/12/2018)

Sebagai sebuah perguruan tinggi (PT), Politeknik Kutaraja diwajibkan oleh Undang-undang untuk melakukan tri dharma perguruan tinggi. Tiga kegiatan utama tri dharma PT yaitu; pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ketiga hal tersebut tidak bisa terlepas dari kehidupan perguruan tinggi dan sivitas akademika.

Dalam rangka untuk meningkatkan literasi ilmiah bagi dosen, di kampus setempat, hari ini (Sabtu, 1/12/2018) diadakan kegiatan workshop penulisan karya tulis ilmiah dalam rangka untuk mengembangkan kemampuan dosen dalam melaporkan hasil penelitiannya. Kegiatan ini diikuti oleh 21 dari 26 orang dosen Politeknik Kutaraja dari berbagai program studi.

“Workshop penulisan jurnal ilmiah yang dilaksanakan tahun ini bertujuan untuk memperbanyak publikasi dosen. Selama ini memang mereka sudah banyak yang berhasil mempublikasikan karya tulisnya di jurnal-jurnal nasional terindeks bahkan jurnal internasional terindeks scopus. Namun secara kualitas masih harus terus kita tingkatkan.” Ujar Supriyanto, Direktur Politeknik Kutaraja sekaligus sebagai pemateri.

Jadi ini semacam kewajiban yang harus kita lakukan secara bersama-sama untuk meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas karya tulis dosen di perguruan tinggi. Apalagi target pemerintah untuk menambah jumlah publikasi internasional secara signifikan untuk mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara lain. Saat ini, Indonesia berada di peringkat ke-3 ranking publikasi ilmiah di antara sesama negara ASEAN.

Jumlah publikasi ilmiah Indonesia pada jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus per 2 Oktober 2017 sudah mencapai 12.098 publikasi. Jumlah tersebut meningkat 2.597 publikasi dalam dua bulan terakhir. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan mampu memproduksi 17.000 publikasi pada akhir tahun agar bisa melewati Singapura.

Bagi dosen yang bersangkutan sendiri memiliki keuntungan dalam hal pengembangan karirnya. Dengan melakukan kegiatan penelitian dan mempublikasikannya di jurnal-jurnal bereputasi, maka akan mudah mengurus kepangkatan dan jabatan akademik dosen bahkan bisa menjadi guru besar. Tidak masalah walaupun dosen yang mengabdi di PT swasta.

Nah, Politeknik Kutaraja tahun ini menargetkan setiap dosen dapat mempublikasikan artikelnya diberbagai jurnal minimal 2 artikel, sehingga diharapkan Politeknik Kutaraja dapat menelurkan 52 jurnal sampai April 2019 nantinya.

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Ali Ghufron Mukti menegaskan, berbagai regulasi yang ada saat ini sebenarnya memberikan manfaat positif dan mampu mengatrol kinerja para lektor kepala dan dosen untuk produktif melakukan riset dan mempublikasikannya di jurnal internasional bereputasi. Khususnya di dunia penelitian perguruan tinggi dan juga lembaga penelitian. Hal ini dapat menunjang karir seorang dosen. Dengan begitu secara linearakan menambah pendapatan yang ia peroleh.

Berdasarkan informasi yang pernah disampaikan oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohd Nasir rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Indonesia adalah 1.000 peneliti berbanding 1 juta penduduk. Angka ini jauh lebih rendah dari negara-negara tetangga sebut saja Singapura dan Malaysia.

Supriyanto, Sp.,M.Si pemateri Workshop Penulisan Jurnal Ilmiah

Di Singapura, rasio jumlah peneliti dengan jumlah penduduk di Singapura adalah 9.000 peneliti per satu juta penduduk. Sedangkan Malaysia hampir 3.000 peneliti per satu juta penduduk. Padahal, kata Nasir, jumlah perguruan tinggi di Indonesia jauh lebih banyak daripada negara-negara tersebut, yaitu sebanyak 4.600. Bahkan jumlah PT di Indonesia dua kali lipat dari China.

Dosen sebagai profesional dan ilmuan

Dalam pemaparannya, Supriyanto mengatakan bahwa dosen itu bukan hanya sebagai tenaga pendidik. Dosen juga sebagai ilmuan dan peneliti. Dalam melaksanakan profesionalitas tersebut, dosen dituntut untuk melakukan penulisan karya ilmiah sebagai wujud pengembangan limu pengetahuan.

Dalam era serba daring ini, seluruh karya ilmiah dosen harus dapat dipublikasikan secara online (daring), termasuk penilaian kinerja, kenaikan pangkat juga dilakukan dengan basis daring. Ketika semua penilaian seluruh aspek tersebut dilakukan, maka dosen akan memiliki jabatan akademik, barulah karir sebagai dosen mulai dikembangkan.

Jabatan akademik dosen dimulai dengan Asisten Ahli (lecturer) dengan syarat masa dinas aktif 1 Tahun, dan pendidikan minimal magister. Kemudian Lektor (senior lecturer), dengan masa aktif 2 tahun dan pendidikan minimal magister, sampai Lektor Kepala dan Guru Besar.

Namun sebagai peneliti, seorang dosen memungkinkan mendapat pendapatan dari kegiatan penelitiannya. Apalagi pemerintah saat ini mendorong setiap dosen di seluruh perguruan tinggi di Indonesia untuk melakukan penelitian. Kemenristek Dikti sendiri menyediakan anggaran yang cukup besar untuk program hibah penelitian dosen.

Kegiatan penelitian akan menunjang kepangkatan dosen sebagai Asisten Ahli sebanyak 25 persen dari total akumulasi angka kredit yang dibutuhkan. Sedangkan angka kredit lainnya diperoleh dari pelaksanaan pendidikan, pengabdian masyarakat, dan unsur penunjang lainnya. Sehingga total angka kredit akumulasi 150 dapat tercapai. Begitu seterusnya kepangkatan sampai guru besar.(*)

Sosialisasi Perpajakan, Generasi Aceh Paham Pajak

Oleh: Hamdani

Panitia Pelaksana Kegiatan Sosialisasi Perpajakan melakukan foto bersama Direktur Politeknik Kutaraja dan Nara Sumber, Rabu (14/11)

Rabu (14/11) bertempat di auditorium kampus Politeknik Kutaraja, himpunan mahasiswa prodi akuntansi bekerja sama dengan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Aceh, melakukan sosialisasi perpajakan bagi dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum di Banda Aceh.

Dengan menghadirkan pemateri dari Kanwil DJP Aceh, kegiatan tersebut diikuti oleh sejumlah mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, beserta dosen dan seluruh mahasiswa Politeknik Kutaraja dari empat (4) program studi yang ada saat ini.

Acara yang dimulai sejak pukul 14:00 Wib, yang dibuka oleh Direktur Politeknik Kutaraja, Supriyanto, SP., M.Si. Dalam sambutan pembukaannya Supriyanto mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi yang dikemas dengan model seminar ini sangat positif, apalagi mengangkat tema tentang perpajakan.

“kegiatan sosialisasi ini sangat bagus dan positif bagi mahasiswa, dosen dan seluruh peserta, apalagi tentang perpajakan.” kata Supriyanto.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu sumber pembiayaan pembangunan negara adalah sektor pajak. Bahkan 80 persen penerimaan negara Indonesia saat ini masih disumbang oleh pajak. Oleh karena itu pajak menjadi prioritas pemerintah dalam hal pemasukan negara.

Karena itu masyarakat perlu didorong untuk aktif membayar pajak, agar pendapatan negara dari pajak menjadi meningkat. Dan itu dimulai dari kesadaran setiap individu untuk menjadi wajib pajak yang bertanggung jawab dan tahu akan kewajiban pajaknya.

Nah, salah satu program DJP Aceh adalah mensosialisasikan tata cara pembayaran pajak, sistem pajak, cara menghitung pajak, dan pengisian SPT dan e-filling pajak kepada sebanyak mungkin calon wajib pajak, terlebih kepada generasi muda.

Apalagi tax ratio Indonesia sampai tahun 2017 masih rendah sekali dibandingkan dengan negara-negara lain termasuk di Asean. Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Keuangan tax ratio Indonesia baru mencapai 30 persen, artinya masih ada potensi penerimaan pajak dari 70 persen wajib pajak lainnya yang belum menyetor kewajibannya. Inilah yang ingin dikejar oleh pemerintah.

Kegiatan sosialisasi serupa juga pernah dilakukan oleh DJP Aceh di acara Car Free Day (CFD). Kanwil DJP Aceh, Ahmad Djamhari mengatakan pihaknya memanfaatkan ajang car free day untuk mensosialisasikan batas waktu penyampaian SPT pajak tahunan hingga 31 Maret 2018 lalu. Acara tersebut diramaikan oleh ratusan warga, jajaran Pemko Banda Aceh, perwakilan perbankan, dan sejumlah komunitas.

“Sekarang untuk isi SPT tidak perlu lagi antre di kantor pajak, cukup via e-filling yang dapat diakses di www.online-pajak.com. Jika ada yang harus dibayar pajaknya tinggal pakai e-billing,”paparnya.

Acara sosialisasi perpajakan di kampus Politeknik Kutaraja yang dipandu oleh Trie Nadila tersebut berjalan lancar dan sangat menarik. Para peserta antusias mengajukan banyak pertanyaan kepada pemateri. Namun karena waktu yang terbatas, tentu tidak semua peserta mendapatkan kesempatan untuk bertanya. (ham)

Politeknik Kutaraja Kerja Sama dengan Politeknik Sultan Azlan Shah Malaysia Lakukan Pelatihan E-Learning Bagi Dosen

Oleh : Hamdani

Peserta pelatihan E-Learning melakukan sesi foto bersama dengan pemateri dari Politeknik Sultan Azlan Shah, Selasa (23/10/2018)/Foto: Hamdani

BANDA ACEH—-Rombongan Politeknik Sultan Azlan Shah, Negeri Perak Malaysia yang sudah berada di Banda Aceh sejak Senin, (22/10/2018) melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di Desa Durung Kacamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar.

Kedatangan tim dari PSAS merupakan respon atas undangan Direktur Politeknik Kutaraja Banda Aceh beberapa waktu lalu. Sebanyak 11 orang yang terdiri dari 4 orang dosen, 6 orang mahasiswa, dan 1 orang alumni ikut dalam rombongan tersebut.

Setibanya di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) di Aceh Besar, sekira pukul 08.00 Wib, rombongan PSAS langsung dijemput oleh Direktur Politeknik Kutaraja yang memang sudah menunggu di terminal kedatangan internasional Bandara SIM. Rombongan PSAS yang diketuai oleh Marzuki bin Sepiaail, selaku penasihat program langsung diajak berkeliling beberapa lokasi bersejarah di Aceh.

Diantara tempat yang dikunjungi antara lain: kuburan massal di Desa Siron, Meseum Tsunami, Masjid Raya Baiturrahman dan tempat-tempat objek wisata lainnya, sebelum akhirnya pada siang hari kegiatan CSR yang dipusatkan di Desa Durung dilakukan. Menurut Marzuki bin Sopiaail yang juga alumni Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (dulunya IAIN).

Kedatangan mereka ke Aceh dalam rangka silaturrahim dengan segenap sivitas akademik Politeknik Kutaraja, yang sebelumnya telah lebih dulu berkunjung ke PSAS Perak Malaysia minggu lalu. Jadi ini dapat dikatakan sebagai kunjungan balasan.

“Kegiatan pokok menurut undangan yang diterima PSAS adalah melaksanakan pelatihan e-learning bagi dosen, dan pengajar Politeknik Kutaraja. Namun untuk menambah eratnya hubungan PSAS dengan masyarakat Aceh, maka kita melaksanakan kegiatan CSR disini.Apalagi saya pernah menjadi pelajar di sini (Aceh maksudnya).” Kata Marzuki.

Adapun yang menjadi sasaran CSR Politeknik Sultan Azlan Shah di Aceh tahun ini adalah Surau Gampong Durung dengan memberikan sumbangan langsung kepada Imam Mesjid Gampong setempat dan diterima oleh Tgk Abdullah Adam senilai Rp10 juta. Program ini juga berbentuk sharing ilmu dengan santri yang berdomisili sebanyak 100 orang yang berusia 6-10 tahun bersama para pelajar dari PSAS.

Pelatihan E-Learning

Pelatihan E-Learning sendiri dilakukan pada hari Selasa, (23/10/2018), dalam agenda tersebut tim PSAS memberikan materi tentang pembelajaran menggunakan media internet dan aplikasi daring. Diharapkan dengan pengalaman mereka selama ini dapat menjadi benchmark bagi Politeknik Kutaraja dalam menerapkan pendidikan berbasis daring di era 4.0.

Pamateri, Darni binti Darmin, dan didampingi oleh seluruh tim, ada Marzuki bin Sepiaail, Anisah binti Nasib, Siti Nadiah binti Mohd Salim, memaparkan dihadapan peserta pelatihan tentang bagaimana memanfaatkan web 2.0 tools sebagai alat pembelajaran bagi generasi z (sebutan generasi millennial).

“Terdapat hampir 2000 aplikasi berbasis web yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar secara online. Dengan dukungan internet, smartphone, tools tersebut dapat dijadikan sebagai cara belajar yang sangat interaktif.” Kata Darni.

Diantara aplikasi berbasis web yang dapat digunakan untuk belajar mengajar yang bersifat interaktif. Misalnya, padlet, blendspace, kahoot, freeze, dan socrative. Semua itu tergolong web 2.0 tools yang tidak perlu berbayar, namun jika menginginkan premium tentu harus bayar. Dan penggunaannya pun sangat mudah, tidak harus orang yang paham dengan bahasa pemograman web atau aplikasi.

“Didalam pelatihan E-Learning ini, dosen-dosen diajarkan cara menggunakan web 2.0 sebagai pengajaran dan pembelajaran atas talian (on-line)”, Jelas Darni dengan logat bahasa melayunya.

Kolaborasi mahasiswa

Selain kegiatan CSR, pelatihan E-Learning bagi dosen-dosen Politeknik Kutaraja. Para pelajar PSAS juga berkongsi ilmu tentang penggunaan media sosial untuk kepentingan bisnis, dan termasuk bersosialisasi. Pelajar PSAS berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka kepada mahasiswa Poltek Kutaraja tentang FB Ads dan IG follower. Pembelajaran ini diberikan secara teori, praktik, dan coaching secara online.

Mauliana Safitri (19 tahun), salah seorang mahasiswi Politeknik Kutaraja memandang kegiatan seperti ini sangat positif untuk menambah wawasan mahasiswa terhadap literasi digital.

Menurutnya mahasiswa sekarang perlu memberdayakan dirinya sendiri dengan manfaatkan perkembangan teknologi informasi untuk mencapai prestasi dalam perkuliahan. Oleh karena itu, kehadiran teman-teman dari PSAS Perak Malaysia dapat memberikan motivasi kami dalam pembelajaran.

Akhiri lawatan

Setelah serangkaian kegiatan usai dilakukan, tim PSAS masih berkenan mengunjungi beberapa situs budaya paska tsunami, seperti kapal diatas rumah di Gampong Lampulo, Kapal Apung di Ulee Lheu, dan Tsunami Escape Building sebelum bertolak kembali ke Malaysia pada esok hari ini, Rabu (24/10/2018).

“Kita berharap semoga kunjungan jalinan kerjasama kedua Politeknik ini bisa terus berlanjut di masa-masa yang akan datang. Demi kemajuan pendidikan bagi generasi Aceh pada khusunya.” ulas Supriyanto, Direktur Politeknik Kutaraja, Aceh-Indonesia sambil menutup pembicaraan.(*)

Cara Sukses Menyelenggarakan Acara

Banyak orang tidak mengetahui apa yang menyebabkan sebuah acara bisa sukses atau pun gagal, kalau ia tidak pernah melaksanakan sebuah acara apapun. Acara sekecil apa saja dalam pelaksanaannya perlu dilakukan dengan baik, tertib dan terencana. Apalagi jika acara tersebut tergolong besar dan mengundang orang (tamu) dalam jumlah banyak, maka sudah seharusnya dipersiapkan secara matang sebelum dilaksanakan.

Untuk mewujudkan terselenggaranya sebuah acara dengan sukses, dewasa ini banyak perusahaan yang menawarkan jasa penyelenggaraan acara atau lebih dikenal dengan istilah event organizer (EO) kepada siapa saja yang membutuhkan. Para praktisi EO mengemas kemampuan mereka dalam mengelola pelaksanaan sebuah acara menjadi suatu peluang bisnis yang menguntungkan.

Jika kita melihat kecenderungan di kota-kota besar, masyarakat urban sudah sangat mengenal dengan jasa EO tersebut, bahkan kerap kali mereka menggunakan jasa EO dalam menyukseskan acara-acara penting yang mereka adakan. Mulai dari acara keluarga, acara bisnis (perusahaan), acara keagamaan, hingga acara lburan dan wisata.

Keberadaan pihak EO dibalik penyelenggaraan sebuah acara sangat mempengaruhi tingkat sukses atau gagal acara tertentu. Jika kompetensi EO sangat baik dan memiliki pengalaman yang banyak (jam terbang) dalam menangani proyek penyelenggaraan acara, maka hampir dapat dipastikan acara tersebut akan terlaksana dengan baik (sukses), sesuai dengan harapan.

Namun sebaliknya, kapasitas kompetensi EO rendah, maka potensi kegagalan penyelenggaraan sebuah acara sangat besar, apalagi jika EO belum memiliki pengalaman yang banyak tentang dunia penyelenggaraan acara.

Agar dalam mengelola sebuah penyelenggaraan acara tidak mengalami kegagalan, maka pihak EO perlu melakukan sebuah perencanaan dengan baik sebelum acara tersebut dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan agar seluruh persiapan dapat dilakukan dengan matang untuk menghindari berbagai kemungkinan buruk yang mungkin dapat terjadi.

Dengan demikian tingkat kegagalan dapat dikelola secara lebih hati-hati dan dapat pula disiapkan berbagai langkah-langkah antisipasi. Inilah salah satu poin penting yang perlu mendapatkan perhatian dari praktisi atau pelaku EO dalam meningkatkan kapasitas profesionalisme mereka dalam industri EO.

Dalam rangka menyebarkan pengetahuan EO ditengah-tengah masyarakat, agar mereka lebih mengenal seluk beluk dunia EO. Politeknik Kutaraja Banda Aceh menggelar pelatihan singkat yang dilaksanakan di Auditorium kampus tersebut hari ini Sabtu, 21-07-2018, dengan menghadirkan pemateri tunggal praktisi EO Ismail, SE.,MM dari Jakarta.

Acara yang dibuka oleh Wakil Direktur I Bidang Akademik Bapak Syamsul Rizal, SE.,MM tersebut, pemateri menjelaskan dasar-dasar EO bagi 100-an orang peserta yang hadir dari berbagai kalangan. Menurut Ismail seorang EO harus memiliki kemampuan manajemen pengelolaan sebuah acara dengan baik, mempunyai pengalaman, relasi yang luas, dan yang paling penting adalah mereka memiliki kreativitas yang tinggi.

Ismail beralasan jika seorang EO tidak dapat menampilkan sesuatu yang baru dan menarik dalam menyelenggarakan sebuah acara, maka membuat acara tersebut monoton dan membosankan. Kondisi ini bisa berdampak tidak adanya kesan mendalam dibenak tamu para undangan yang menghadiri acara tersebut.

Oleh karena itu ia menyarankan agar sebelum kegiatan dilaksanakan, pelaksana acara atau EO perlu melakukan riset kecil untuk mengetahui hal-hal apa saja yang sedang tren di pasar, termasuk mengetahui mode atau desain yang sedang digandrungi oleh masyarakat saat ini. Riset kecil juga diperlukan untuk mengetahui situasi dan kondisi sebenarnya, baik kondisi alam, cuaca, situasi keamanan, dan sebagainya.

Jangan sampai seorang EO tidak mengetahui bagaimana keadaan terkini (baik internal maupun eksternal). Padahal dari berbagai penelitian ditemukan bahwa secara umum yang menjadi penyebab kegagalan pelaksanaan sebuah acara adalah EO tidak memiliki data dan informasi yang cukup dari sebuah acara yang ditanganinya.

Model 5W+1H

Lebih lanjut Ismail memberikan tips sederhana bagi peserta pelatihan yang rata-rata berusia muda itu, bagaimana menggunakan model 5W+1H sebagai kiat sukses menyelenggarakan acara oleh EO.

What; pada bagian awal, seorang EO perlu mengetahui secara baik apakah acara yang akan dilaksanakannya tersebut. Apakah acara konser musik, acara seminar, bisnis, pendidikan, kesehatan, olah raga, pesta perkawinan atau acara apa. Dengan mengetahui jenis acara, maka seorang EO dapat menawarkan sebuah konsep penyelenggaraan acara yang tepat.

Why; mengapa acara itu dilaksanakan? Pastinya setiap orang (klien) yang punya hajatan memiliki alasan tersendiri dalam melaksanakan sebuah acara. Pihak EO harus dapat memahami secara mendalam alasan pemilik acara agar dapat menciptakan kepuasan.

When; kapan acara tersebut dilaksanakan. Soal waktu harus dapat dipastikan sebelum tibanya hari pelaksanaan. Menurut Ismail pilihlah waktu yang aman, lihat situasi dan kondisi. Jangan sampai membuat sebuah acara outdoor padahal musim hujan. Atau membuat sebuah acara lomba dayung padahal lagi musim angina topan. Hal itu kurang tepat dalam memilih waktu jika dikaitkan dengan cuaca/musim.

Where; dimanakah acara akan diadakan? Pertanyaan ini perlu dijawab oleh seorang EO sebelum penyelenggaraan acara dilaksanakan. Memilih tempat yang menarik, sesuai dengan tema acara, tidak ada gangguan kemanan, kecil resiko bencana, dekat dengan akses transportasi atau mudah dijangkau, merupakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan oleh EO.

Who; siapakah segmennya? Maksudnya adalah siapakah tamu yang menjadi target penerima layanan, termasuk siapa saja pihak berkepentingan dari acara tersebut. Hal ini ada kaitan erat dengan unsur lainnya dalam rangka menyiapkan konsep yang tepat serta sesuai yang harus dilakukan oleh EO.

How; bagaimana melaksanakannya. EO perlu merancang cara kerja teknis dengan sitematis sebelum hari H tiba. Menguasai teknis secara detil dapat menjadi kekuatan EO dalam menyelenggarakan acara untuk mencapai kesuksesan dan kepuasan semua pihak, terutama yang punya hajatan.

Pada akhir sesi, seluruh peserta berfoto bersama dengan narasumber dan pelatihan singkat tersebut itu pun ditutup dengan pembagian sertipikat oleh panitia.

Salam.[]

Pentingnya Akhlak dan Pendidikan Karakter

Oleh: Hamdani dan Yusra

Siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar saat melakukan kegiatan penguatan karakter di aula sekolah (20/3/2018)/Foto: dokpri

BANDA ACEH—Potongan kalimat Back to School sudah mulai terlihat dimana-mana,bahkan slogan tersebut telah menjadi tema menarik bagi beberapa perusahaan yang bergerak dalam industri pendidikan, semisal penerbit buku, toko buku, untuk menarik perhatian pelanggan mereka. Kempanye Back to School atau kembali ke sekolah sesungguhnya sangat berguna dan bermanfaat. Karena dapat mengingatkan para orang tua, murid, guru dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di negeri ini bahwa saatnya kembali ke sekolah dan meneruskan belajar segera dimulai.

Setelah masa liburan panjang semester akan segera berakhir dan proses penerimaan murid/siswa/mahasiswa baru pun sudah usai dilakukan. Tentu saja setiap sekolah yang telah menuntaskan proses seleksi peserta didik baru untuk tahun ajaran 2018/2019  telah siap menyambut tamu baru mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bagi sekolah yang mampu memenuhi target kuota penerimaan peserta didik baru, maka boleh bersenang hati karena berarti seluruh kelas yang tersedia memiliki siswa yang cukup. Namun sebaliknya sekolah yang kekurangan jumlah peminat tentu harus mencari strategi baru untuk menambah jumlah rombongan belajar (rombel) mereka.

Terlepas dari jumlah siswa atau peserta didik yang berhasil diperoleh oleh masing-masing unit sekolah pada berbagai jenjang pendidikan (dasar dan menengah) yang ada saat ini khususnya di Kota Banda Aceh cukup atau kekurangan, ada hal yang penting dan sangat urgen harus menjadi perhatian kita terutama guru/dosen dan orang tua murid/siswa/mahasiswa yaitu soal pendidikan akhlak (moral) peserta didik/mahasiswa dalam pendidikan berkarakter yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Sebagaimana dalam undang-undang sistim pendidkan nasional secara inplisit tersirat makna bahwa tujuan penyelenggaraan pendidkan bagi seluruh warga negara Indonesia pada hakikatnya adalah untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia yang memiliki karakter, watak serta berkepribadian yang baik, tangguh, ulet dan berwawasan kebangsaan. Hal ini dimaksudkan agar generasi bangsa Indonesia siap menghadapi tantangan masa depan baik internal maupun eksternal (global) seperti kondisi saat ini.

Untuk mewujudkan visi tersebut, pemeritah telah merancang sistim pendidikan nasional dengan menitik-beratkan output dan outcome-nya pada tiga aspek utama yaitu; aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan sikap (attitude). Dengan pola ini diharapkan seorang peserta didik (murid/siswa) nantinya memiliki kualitas sumber daya manusia yang siap melakukan perubahan yang lebih baik bagi negeri ini di masa yang akan datang.

Dari ketiga aspek utama diatas menunjukkan bahwa proses pembentukan nlai-nilai pada peserta didik semakin masif dan dilakukan secara terstruktur. Memang nilai pengetahuan dirasa masih menjadi salah satu faktor fundamental dalam berbagai model pendidikan. Bagaimana pun tingkat intelektualitas akan membentuk pola pikir seorang anak. Dengan memiliki asupan pengetahuan yang cukup, maka ia akan mampu membangun pemikiran konstruktif dan positif bagi dirinya dan lingkungan di mana ia berada. Sehingga mereka akan menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Karena begitu pentingnya kualitas intelektual yang harus capai oleh para peserta didik, maka tidak heran jika institusi pendidikan kita dewasa ini cenderung lebih memperhatikan aspek pembelajaran yang mengutamakan konten/materi pelajaran atau akademik daripada aspek lainnya. Sebagai contoh, seorang murid/siswa yang memiliki nilai akedmiknya tinggi dapat dipastikan ia akan naik kelas meskipun apek moralnya (akhlak) dibawah standar. Sebaliknya seorang murid/siswa yang memiliki prilaku yang baik, sopan, (akhlak), namun nilai pengetahuannya rendah (dibawah standar), maka Insya Allah dijamin ia akan tinggal kelas.

Fenomena seperti itu kerap terjadi di sekolah-sekolah kita saat ini, dan sayangnya peserta didik yang nilai pengetahuannya rendah bahkan dianggap/divonis sebagai anak bodoh meskipun mereka cerdas secara moral (akhlak). Nah lalu pertanyaannya adalah bagaimanakah yang dimaksud dengan pendidikan karakter yang didengung-dengungkan oleh pemerintah dan institusi pendidikan kita?

Pendidikan karakter yang terlupakan

Secara konsep model pendidikan karakter sangat ideal dan relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan serta visi dan misi bangsa Indonesia dewasa ini, bahkan jika model tersebut berhasil dilaksanakan dengan sempurna, maka sumber daya manusia (SDM) Indonesia akan memiliki keunggulan dari SDM bangsa lain.

Sekedar membuka catatan kita, pada tahun 2009 pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional menggulirkan wacana pendidikan karakter. Wacana ini bertujuan mengatasi kerusakan moral yang semakin melanda bangsa ini, terutama remaja atau generasi muda. Pendidikan karakter pada dasarnya lahir disebabkan oleh hilangnya aspek nilai moralitas dalam dunia pendidikan kita. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sekolah lebih mementingkan pengembangan intelektualitas atau mengabaikan pembinaan akhlak (moral) secara serius dan terstruktur pula.

Padahal nilai-nilai akhlak (moral) sangat penting untuk menjamin kejujuran, ketertiban, keamanan, kedisiplinan, keadilan dan keharmonisan dalam hubungan sosial serta interaksi dalam lingkungan sekolah maupun luar sekolah (masyarakat). Apalah artinya seseorang memiliki kecerdasan intelektual tetapi mempunyai akhlak yang buruk. Banyak pejabat di negeri ini yang terjerat kasus korupsi hukan karena mereka bodoh (intelektulitas rendah) tetapi karena moralnya rusak.

Maka, jika kita berkaca pada model pendidikan Rasulullah Saw pada periode awal masa kerasulannya, sebelum beliau mengajarkan tentang keimanan (tauhid), terlebih dahulu Rasulullah melakukan perbaikan akhlak (moral) para sahabat dan ummat Islam. Bahkan banyak kaum quraisy yang kemudian memeluk Islam dikarenakan ketertarikan mereka terhadap budi pekerti (akhlak) Rasulullah Saw. Ketika moral atau ahlaknya telah bagus, maka aspek yang lain dengan mudah dapat dibentuk. Bagaimana seorang anak didik memiliki motivasi belajar tinggi jika mereka tidak mempunyai kedispilan yang baik.

Lalu bagaimanakah metode pendidikan karakter yang efektif? Pertama sekali ketika kita bicara tentang pendidikan karakter, maka kita bicara tentang moral atau akhlak seperti apa yang ingin ditanamkan dalam pendidikan tersebut. Setelah itu kemudian kita mencari dan menentukan metode yang tepat dalam melakukan prosesnya. Inti daripada pendidikan karakter sesungguhnya adalah bagaimana seharusnya memanusiakan manusia.

Mengutip Wikipedia “pendidikan karakter merupakan bentuk kegiatan manusia yang didalamnya terdapat suatu tindakan yang mendidik diperuntukkan bagi generasi selanjutnya. Tujuan pendidikan karakter adalah untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju kearah hidup yang lebih baik.”

Menurut Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah Anas M. Adam mengatakan, pembangunan kualitas manusia Indonesia harus disertai dengan pelaksanaan pendidika karakter. Oleh karena itu, rumusan tujuan pendidikan nasional menjadi dasar dalam pengembangan karakter bangsa. (kompas.com, 22/11/2017)

Dari penjelasan Anas M.Adam tersebut diatas jelas bahwa pemerintah memiliki keinginan yang kuat untuk mewujudkan pendidikan karakter sebagai basis pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Maka menurut Anas M. Adam  “keberhasilan pendidikan karakter bangsa di sekolah akan sangat tergantung pada peranan guru di sekolah, guru-guru selain mengajarkan materi pokok sesuai dengan bidang studinya, mereka juga harus mengisinya dengan pendidikan karakter yang sesuai dengan tema pembelajaran di kelas atau terintegrasi dalam pembelajaran.” Jadi strategi utama proses pendidikan karakter adalah guru/dosen.

Mendidiklah dengan hati

Barbara Harell Carson pernah berkata “students learn what they care aobut, from people they care about and how who, they know, care about them.” Kurang lebih dapat dimaknai bahwa siswa akan belajar terhadap apa yang mereka peduli tentangnya, dari orang-orang yang peduli pada mereka dan peduli tentang mereka. Pesan Barbara ini hanya memiliki satu kata kuci yaitu peduli.

Penting sekali bagi guru/dosen untuk memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap peserta didiknya, dengan kepedulian tersebut guru/dosen dapat menilai proses perubahan dan perkembangan mereka dari waktu ke waktu dalam setiap fase belajar. Dari sinilah segala kekurangan dapat diperbaiki menuju hasil yang lebih baik.

Menurut kami cara yang paling efektif bagi guru/dosen menanamkan akhlak yang baik pada peserta didik pada model pendidikan karakter adalah menunjukkan ketauladanan terutama sikap baik/contoh ketauladanan para guru/dosen dan seluruh warga sekolah/kampus pada peserta didik dengan jujur (sebenarnya) dan tidak munafik. Tidak boleh sekali-sekali guru/dosen memperlihatkan sikap dusta kepada peserta didik sementara ia meminta murid/siswa/mahasiswa berlaku jujur.

Model pendidikan akhlak yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah Saw dalam pergaulannya dengan para sahabat bahkan dengan musuhnya sekalipun dapat menjadi best practice bagi guru/dosen dalam upaya membangun karakter (character building) peserta didik sejak dini (TK/murid SD/siswa SMP). Beliau selalu menunjukkan sikap dan perbuatan baik dalam setiap interaksi, mulai dari ucapannya yang sopan, lemah lembut, berkata jujur sampai saat marah pun beliau masih menunjukkan etika yang mulia, subhanallah!

Sifat seperti Rasulullah tersebut mencirikan bahwa mendidik bukan hanya dengan sejumlah teori dan memasok pengetahuan (sains), namun bagaimana transfer ilmu yang dilakukan oleh guru/dosen juga dibarengi dengan pembentukan akhlak (morality) yang padu padan dengan kepribadian, keterampilan, yang dimliki oleh para peserta didik.

Memang selama ini para guru telah melakukan proses pendidikan karakter ini dengan baik. Dapat kita lihat setiap pagi ketika awal jam sekolah, para guru dengan setia menunggu murid/siswa didepan gerbang sekolah dan mereka salami satu persatu murid/siswa yang datang. Namun hendaknya contoh sikap mulia yang ditunjukkan ini bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan sekolah atau sekedar melepaskan kewajiban. Akan tetapi benar-benarlah datangnya dari rasa peduli guru terhadap anak-anak. Oleh sebab itu, ketika bersalaman hendaknya guru juga menanyakan kabar anak-anak, keluarganya, apa sudah sarapan atau belum jika itu masih pagi hari. Begitulah cara menyentuh hati mereka dan mendekatkan diri dengan anak-anak. Wallahu bishawab.

Penulis: Yusra, S.Ag Guru Bidang Studi Bahasa Inggris pada SMPN 2 Banda Aceh, Hamdani, SE.,M.Si, Dosen Politeknik Kutaraja Banda Aceh

Kapitalisasi Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi

Setiap guru dan siswa pasti sudah sangat hafal dengan momentum 2 Mei, ya! Hari Pendidikan Nasional, tepatnya hari ini. Di hari tersebut berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan di gelar secara besar-besaran dan sangat meriah. Mulai dari acara berbentuk seremonial sampai kegiatan yang bersifat spiritual, dari pagelaran seni sampai festival budaya.

Acara Hardiknas pun dilakukan mulai dari pemerintah pusat sampai ke pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Biasanya pada acara yang bersifat penting dan strategis, kegiatan dimulai dengan acara upacara kenegaraan, seperti menaikkan bendera merah putih oleh pasukan pengibar bendera, menyanyikan lagu kebangsaan dan seterusnya secara khidmat.

Yang menjadi pembina upacara pun pasti orang nomor satu di setiap level pemerintahan, jika pemerintah pusat, maka Presiden-lah yang bertindak sebagai pembina upacara. Dan seterusnya sampai pemerintah level dibawahnya. Begitulah gambaran peringatan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tahun dan hampir tidak perubahan yang signifikan dalam tata tertib acaranya.

Tidak ada yang salah dengan memperingati hari apapun, seperti halnya kemarin (1 Mei 2018) para buruh memperingati Hari Buruh Sedunia atau lebih dikenal dengan Mayday atau juga Hari Kartini, Hari Pahlawan dan hari-hari lainnya. Bahkan secara pribadi pun kita memiliki hari khusus yang memiliki histori atau nilai tertentu dan kita pun memperingatinya, misalnya hari lahir lalu diperingati dengan Hari Ulang Tahun. Sekali lagi tidak ada yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah mengapa harus memperingatinya? Apa tujuan memperingatinya? Dan bagaimana para stakeholder memaknai peringatan hari pendidikan tersebut? Inilah yang menjadi subtansinya menurut hemat penulis.

Dari hasil survey kecil-kecilan yang penulis lakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa dan guru yang mengikuti acara peringatan Hardiknas, penulis mendapati sebanyak 40 persen mengatakan bahwa tujuannya adalah hanya mengikuti kegiatan seremonial, 20 persennya mengatakan bertujuan ingin meningkatkan kemajuan pendidikan, sementara 35 persen lainnya bertujuan mendukung program pemerintah. Hanya 5 persen yang tidak menjawab. Dari hasil survey sederhana tersebut dapat dilihat bahwa ternyata tujuan mendukung program pemerintah dalam memajukan pendidikan paling tinggi. Tentu hal ini sangat positif.

Permasalahan Dunia Pendidikan Saat Ini

Jika kita mengikuti berbagai informasi yang disajikan oleh media massa baik media cetak, media elektronik dan media daring (online), dunia pendidikan nasional masih diselimuti berbagai masalah, mulai dari masalah fasilitas sekolah, laboratorium, mobiler, yang masih belum memadai dan bahkan masih timpang antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kemudian masalah guru yang masih terjadi kekurangan dan kurang kompeten, persoalan kurikulum yang masih tumpah tindih dan masalah teknis lainnya.

Menghadapi era digital dan model pendidikan abad 21 tuntutan terhadap pendidikan semakin komplit, bukan hanya dari segi perkembangan teknologi yang sangat cepat namun tingkat persaingan pun kian meluas, tidak lagi kompetisi berbasis lokal tetapi secara global. Sebab itu jika semua persoalan pendidikan yang selama ini tidak dibenahi, maka sangat mempengaruhi kualitas lulusan dan peserta didik dalam berkompetisi. Misalanya persoalan guru, menurut Namin AB Ibnu Solihin (2015) “Guru banyak yang masih mengajar pakai cara zaman dahulu, padahal sekarang sudah zaman digital. Ditambah siswa yang dihadapinya lahir di zaman digital. Praktik mengajar seperti ini kebanyakan terjadi di sekolah-sekolah negeri. Bahkan, kepala sekolahnya sendiri banyak yang usinya tua, dan sudah hampir pensiun,”

Dari segi kelengkapan fasilitas sekolah juga masih ada yang belum mencapai standar minimal. Di Aceh sendiri masih ada sekolah yang masih menggunakan gedung atau tempat belajar yang tidak layak, bahkan lebih pantas disebut kandang kambing daripada tempat belajar. Fakta ini terdapat di Kabupaten Aceh Utara. Selain sarana tempat belajar, aliran listrik yang tidak tersedia juga merupakan masalah yang fundamental untuk menerapkan sekolah berbasis internet dan digital. Memang hal ini sangat ironis, belahan dunia lain yang justru sangat maju namun masih ada sekolah di Indonesia yang belum teraliri listrik.

Penerapan kurikulum juga menjadi polemik tersendiri dalam proses belajar mengajar di Indonesia, bukan hanya di kota-kota besar bahkan di Aceh juga menjadi kontroversial dan terjadi simpang siur di kalangan para pendidik dan sekolah. Sebagian yang setuju dan tertarik dengan kurikulum 13 (K13), maka disekolah tersebut diterapkan kurikulum 13 meskipun secara infrastruktur dan proses belum siap. Namun sebagian yang lain justru menolak penerapan K13 walaupun ditengarai K13 sangat relevan dan bagus untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Proyeksi kebutuhan pendidikan abad 21 sendiri sekurang-kurangnya ada tiga komponen utama yang harus dimiliki oleh seorang peserta didik agar mampu berkompetisi secara global; pertama : Karakter, ini berkaitan dengan personaliti dan soft skill seseorang.

Karakter unggul yang dibutuhkan pada era sekarang dan kedepan adalah mereka yang mempunyai karakter moral yang baik, seperti kejujuran, etika dan nilai-nilai spiritualitas yang baik. Lalu karakter kerja, tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan seseorang diarahkan pada kesiapan mereka untuk memasuki pasar dunia kerja, mampu bersaing untuk merebut peluang kerja yang ada bahkan hingga mereka mampu menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain. Karakter kerja yang dibutuhkan misalnya seseorang harus memiliki etos kerja yang tinggi, tidak malas, kreatif dan bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik dan tuntas.

Kemudian komponen yang kedua yaitu; kompetensi, seorang peserta didik harus memiliki kompetensi pada bidang yang pilih. Kompetensi itu merupakan kemampuan seseorang dalam mengembangkan sumber daya yang dimilikinya untuk digunakan dalam melakukan pekerjaan sebagai suatu keahlian yang melekat pada dirinya. Misalnya kompetensi di bidang teknik, administator, akuntansi, dan lain sebagainya.

Dan yang komponen yang ketiga adalah literasi. Yang di maksud dengan literasi adalah keterbukaan wawasannya. Paling tidak seseorang memiliki empat kemampuan literasi yang harus dimiliki. Pertama; literasi bacaan, kedua; lterasi budaya, ketiga; literasi teknologi dan keempat; literasi keuangan.

Persoalan Ekonomi

Salah satu keberhasilan pemerintah mewujudkan pemenuhan hak pendidikan rakyatnya adalah mampu meningkatkan aksesibilitas layanan pendidikan secara merata di seluruh nusantara.

Hal ini dimaksudkan untuk pemberantasan buta aksara dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu visi pendiri negara ini. Memberikan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas merupakan perintah konstitusi yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Namun jika kita melihat data jumlah murid sekolah dasar yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah setiap tahun memang meningkat tetapi secara rasio justru menurun. Begitu juga yang lulus SMP masih sangat banyak yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan atas, padahal pemerintah telah menerapkan program wajib belajar pendidikan dasar -dari SD sampai dengan SMA-.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shabri A. Majid (2014) tentang pengaruh pertumbuhan eknomi terhadap pendidikan, ditemukan ternyata pertumbuhan ekonomi sangat berpengaruh terhadap kemajuan pendidikan suatu daerah.

Aceh adalah daerah yang pertumbuhan ekonominya tergolong rendah di pulau sumatera. Banyak siswa-siswa Aceh yang tidak meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, bukan karena tidak ada minat akan tetapi karena terbentur dengan kemampuan orang tua mereka dalam keuangan (ekonomi).

Ketiadaan biaya yang harus dibayarkan ke sekolah, itulah yang menyebabkan mereka harus menguburkan impian dan cita-cita mereka secara lebih dalam. Mahalnya biaya pendidikan menjadi penyebab utama rendahnya tingkat partisipasi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Karena faktor ekonomi orang tua sehingga mereka lebih mememilih bekerja membantu mencukupi kebutuhan keluarga.

Kapitalisasi pendidikan di Indonesia telah menyebabkan anak-anak Indonesia pada umumnya dan Aceh pada khususnya mengalami gagal sekolah alias putus sekolah. Memang katanya tidak ada kutipan apapun di sekolah, pungutan liar di berantas, tersedianya dana operasional sekolah atau daan BOS, tetapi siapa yang berani menjamin bahwa tidak setoran apapun dari orang tua ke sekolah? Inilah persoalan peringatan hari pendidikan nasional yang jatuh pada hari ini. Tidak terlalu penting kegiatan tersebut berlangsung rutin setiap tahun namun jika semuanya tanpa makna.

Seremonial hanya menyenangkan hati pejabat tetapi masalah pendidikan dasar yang menjadi kewajiban negara bagi rakyatnya tidak pernah ada kemajuan setiap tahunnya. Akhirnya marilah kita ubah cara kita menangani permasalahan pendidikan di negeri ini dan berikan perhatian yang serius terhadap sumber daya manusia Indonesia menuju pendidikan abad 21 yang penuh tantangan ini. Terima kasih atas segala perhatian dan mohon maaf jika ada kekurangan.

Baca di https://www.kompasiana.com/cangkoiburong/5ae9697116835f067100af02/kapitalisasi-pendidikan-dan-pertumbuhan-ekonomi