STP dan Kampus ditargetkan Pemerintah membantu Perusahaan Pemula Teknologi

SURABAYA – Pemerintah memberi bantuan dan bimbingan bagi lembaga inkubator bisnis dari perguruan tinggi dan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) atau Science and Techno Park (STP) untuk membantu perusahaan pemula teknologi setempat dari berbagai segi, termasuk pemasaran, finansial, dan produksi. Peran sebagai inkubator bisnis dari perguruan tinggi dan STP ini termasuk amanah dari Nawacita pemerintah saat ini, demikian ungkap Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).  “Ekonomi jangan berkembang hanya pada kota-kota besar, tetapi juga di kota-kota kecil, untuk itu dikembangkan konsep pengembangan ekonomi daerah melalui STP. Di RPJMN disebutkan akan dibangun 100 STP dari Sabang sampai Merauke,” ungkap Patdono saat membuka Kick Off Meeting Program Pengembangan Kelembagaan Inkubator Bisnis Teknologi di salah satu hotel di Surabaya pada Rabu, 23 Mei 2018. STP pada dasarnya memiliki banyak peran, termasuk pengujian laboratorium, pameran produk penelitian, namun pemerintah mulai memfokuskan STP pada membimbing perusahaan pemula (start-up companies) berbasis teknologi.“Kalau kemampuan STP untuk transfer teknologi dan inkubasi bisnis itu percuma, karena layanan yang paling penting di STP untuk menghasilkan start-up companies itu transfer teknologi dan inkubasi bisnis,” ungkap Patdono.Terkait dengan layanan inkubasi bisnis di STP, Patdono memastikan tenants atau peserta perusahaan pemula akan didukung secara komprehensif.“Inkubator harus bisa membantu bagaimana tenants membuat rencana bisnis yang bagus, termasuk modelnya dan nilai tambah yang diberikan kepada pelanggan. Kemudian bagaimana rencana strategisnya, rencana pemasarannya, dan rencana produksinya,” ungkap Patdono. Selain dukungan dalam perencanaan, inkubator pada perguruan tinggi dan STP juga membantu mencari pendanaan atau financial support bagi perusahaan pemula. “Inkubator harus bisa memfasilitasi pengusaha pemula berbasis teknologi mendapatkan akses untuk dukungan pendanaan,” ungkap Patdono. Kick-Off ini disertai pelatihan yang diselenggarakan selama empat hari hingga Sabtu, 26 Mei 2018. Pelatihan ini diikuti oleh inkubator bisnis dari beberapa Perguruan Tinggi Negeri yang mendapatkan Bantuan Pengembangan Kelembagaan Inkubator Bisnis Teknologi 2018, mencakup UI, UGM, ITB, IPB, ITS, Unpad, Unair, Undip, Unhas, Unsyiah, Unsri, Universitas Negeri Medan, Universitas Negeri Balikpapan, Universitas Mataram, Universitas Pattimura, Universitas Lambung Mangkurat, Politeknik Negeri Kupang, Universitas PGRI Semarang, Universitas Muslim Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, STIMIK Primakara Bali, Pusat Inovasi LIPI, Maleo Techno Park, dan Universitas Skystar Venture.STP yang hadir mencakup STP Solo, STP Universitas Andalas, STP Provinsi Riau, STP Jember, STP Sragen. Direktorat Jenderal Kelembagaan Iptek Dikti
Kemenristekdikti.

Kunci Keberhasilan……? Tekad

KOMPAS.com – Angela Lee Duckworth, 48 tahun, adalah seorang akademisi, psikolog, dan penulis sains populer asal Amerika. Dalam penelitian pasca sarjananya ia menemukan bahwa IQ bukanlah kunci penentu keberhasilan seseorang. “Hal yang mengagetkan saya adalah IQ bukanlah satu-satunya pembeda antara siswa terbaik dan terburuk saya. Beberapa dari mereka yang mendapatkan nilai terbaik tidak memiliki IQ yang luar biasa tinggi. Sebaliknya, beberapa dari anak-anak yang paling cerdas tidak begitu berhasil,” jelas Angela pendiri dan CEO Character Lab, organisasi nirlaba yang memiliki visi memajukan ilmu pengetahuan dan praktek pengembangan karakter. Berdasarkan pengalaman, seberat atau sesulit apapun materi pelajaran ia sangat yakin bahwa setiap murid dapat mempelajari materi tersebut jika mereka bekerja cukup keras dan lama. Setelah beberapa tahun mengajar, Angela menyimpulkan bahwa yang diperlukan dalam pendidikan adalah pemahaman yang lebih baik tentang murid dan pembelajaran dari sudut pandang motivasi, dari sudut pandang psikologis. Bukan IQ. Dalam pendidikan pascasarjana psikolog Angela mempelajari anak-anak dan orang dewasa dari semua jenis latar belakang dengan satu pertanyaan: Siapa yang akan berhasil dan mengapa? Angela dan tim penelitian pergi ke Akademi Militer West Point dan mencoba untuk memprediksi calon perwira mana yang akan tetap tinggal di pelatihan militer dan siapa yang akan keluar. Baca juga: 5 Tugas Kekinian Guru Tim penelitinya juga pergi ke “National Spelling Bee” (Lomba Mengeja Nasional) dan mencoba memprediksi anak-anak mana yang akan maju terjauh dalam kompetisi. Mereka juga mempelajari guru-guru baru yang bekerja di lingkungan yang benar-benar sulit, dan memprediksi guru-guru mana yang masih akan tetap mengajar pada akhir tahun ajaran sekolah, dan siapa di antara mereka yang paling efektif dalam meningkatkan hasil pembelajaran bagi siswa mereka? Penelitian juga bermitra dengan perusahaan-perusahaan swasta, dan meneliti siapakah di antara staf marekting yang paling bertahan dalam pekerjaan? Siapa yang akan menghasilkan uang paling banyak? Dari semua penelitian yang sangat berbeda itu, satu karakteristik muncul sebagai kunci keberhasilan yang signifikan dan penting. Dan hal itu bukanlah kecerdasan sosial, bukan penampilan yang menarik, kesehatan fisik, dan bukan juga I.Q. Hal itu adalah tekad. Tekad adalah semangat dan ketekunan untuk tujuan-tujuan jangka panjang, tambahnya. Tekad berarti memiliki stamina. Tekad melekat dengan masa depan kita setiap hari, jelasnya. Bukan hanya selama seminggu, bukan pula satu bulan, tapi untuk bertahun-tahun, dan bekerja benar-benar keras untuk membuat masa depan itu menjadi kenyataan. Tekad adalah menjalani hidup seperti sebuah pertandingan lari maraton, bukan lomba lari jarak dekat. Baginya, hal yang paling mengejutkan tentang tekad adalah betapa sedikit yang kita ketahui dan betapa sedikit ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk membangun tekad. Data yang ia miliki menunjukkan dengan sangat jelas bahwa ada banyak individu-individu berbakat yang tidak mengikuti komitmen mereka. Pada kenyataannya, tekad biasanya tidak berhubungan atau bahkan berbanding terbalik dengan besarnya bakat. Pola pikir yang berkembang dan terbuka adalah cara yang bagus untuk membangun tekad sebagai kunci keberhasilan.

Mau Kemana Pendidikan Kita Kedepan…….?

Jakarta, Aktual.com – Sekitar 8,8 persen dari tujuh juta pengangguran di Indonesia adalah sarjana, 40 persen dari 5,1 juta pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa, serta 84 persen siswa di Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah.  Atas sejumlah contoh data tersebut, amatlah wajar dalam momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei ini, muncul pertanyaan mau ke mana pendidikan kita ke depan?

 Adalah Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir, dalam orasi ilmiah pada wisuda sarjana Universitas Gunadarma, di Jakarta, pada 25 Maret lalu, yang menyebutkan sekitar 8,8 persen dari total tujuh juta orang pengangguran adalah sarjana, berarti sekitar 616 ribu orang pengangguran adalah lulusan perguruan tinggi.

Sekitar 40 persen dari 5,1 juta pengguna narkoba atau 2,04 juta orang pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa, disampaikan oleh Kabag Humas BNN Kombes Pol Sulistiandriatmoko dalam diskusi bertema “Stop Narkoba, Save Generasi Muda” di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 14 November 2017, sebagaimana disinyalir sebuah portal berita. Jumlah pelajar dan mahasiswa pengguna narkoba itu terdiri atas mereka yang penasaran lalu mencoba, ada yang sudah beberapa kali, bahkan ada yang sudah kecanduan lalu menjadi bandar.

Sementara Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada Peringatan Hardiknas 2 Mei 2018 ini mengeluarkan pernyataan yang juga berisi data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa sebanyak 84 persen siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah, 45 persen siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, 40 persen siswa usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik oleh teman sebaya.

Selanjutnya 75 persen siswa pernah melakukan kekerasan di sekolah, 22 persen siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah merupakan pelaku kekerasan, dan 50 persen anak melaporkan mengalami perundungan di sekolah.

Bahkan data KPAI dalam tri semester pertama 2018 menunjukkan bahwa pengaduan di KPAI juga didominasi oleh kekerasan fisik dan anak korban kebijakan (72 persen), kekerasan psikis (sembilan persen), kekerasan pemerasan (empat persen), dan kekerasan seksual (dua persen).

(Zaenal Arifin)

Nomor Ijazah Nasional Tangkal Upaya Pemalsuan Kelulusan

JAKARTA – Nomor ijazah nasional mulai diterapkan pada mahasiswa yang lulus tahun ini. Salah satunya dilakukan Universitas Trisakti. Dengan nomor ijazah nasional, siapa pun akan mudah mengecek keaslian dari ijazah seseorang. Jadi, oknum mana pun bakal kesulitan untuk membuat ijazah palsu.
Melalui nomor ijazah nasional, perusahaan pengguna jasa alumni Universitas Trisakti juga tak perlu repot lagi mengecek keaslian surat kelulusan ke kampus. Semua bisa dicek secara cepat dan terpercaya melalui website Kemenristekdikti.
“Kami menjadi universitas swasta pertama yang menggunakan nomor ijazah nasional untuk lulusannya,” kata Pjs Rektor Universitas Trisakti Ali Ghufron Mukti, seusai mewisuda mahasiswa program doktor, magister, spesialis, profesi, sarjana, dan diploma di Jakarta, Minggu (6/5/2018).
Wakil Rektor I Universitas Trisakti Asri Nugrahanti menambahkan, nomor ijazah nasional sudah mencakup data-data mahasiswa selama di kampus. “Mulai dari kapan mahasiswa masuk, berapa mata kuliah atau SKS yang sudah ditempuh, dan lain sebagainya,” kata Asri.

Sekadar informasi, Universitas Trisakti kemarin mewisuda 2.158 lulusan yaitu S3 sebanyak 40 orang, S2 (436), Profesi (37), S1 (1.429), D4. (81), D3  (135). “Dengan demikian, sampai saat ini dari sembilan fakultas dan 47 program studi seluruh alumni Universitas Trisakti berjumlah 119.079 orang,” kata Ketua Senat Universitas Trisakti HA Prayitno

PELUANG INVESTASI DI PASAR MODAL SYARI’AH

PELUANG INVESTASI DI PASAR MODAL SYARI’AH

            Seiring dengan perkembangan pasar modal di Indonesia, peluang investasi bagi investor semakin luas. Jika investasi di sektor riil dianggap kurang menguntungkan disebabkan terjadinya perubahan indikator makro ekonomi seperti inflasi dan daya beli masyarakat misalnya, maka calon investor dapat mempertimbangkan pasar modal sebagai salah satu alternatif investasi demi mencari keuntungan. Apalagi dalam kondisi ekonomi global seperti saat ini, terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap $US dan tingginya laju inflasi dapat memberikan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan sektor riil. Para pengusaha akan dihadapkan pada risiko bisnis (business risk) yang relatif tinggi. Selain itu, kecenderungan kenaikan suku bunga kredit oleh bank umum sebagai akibat peningkatan suku bunga acuan (BI rate) oleh bank Indonesia, dipastikan akan meningkatkan biaya investasi (investment cost) yang harus dikeluarkan oleh dunia usaha, sehingga berdampak negatif pada pengembalian investasi di sektor riil. Ditambah lagi dengan laju inflasi yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat, maka permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor riil tentunya juga akan mengalami penurunan sehingga mempengaruhi prospek usaha. Depresiasi rupiah terhadap $US terus terjadi dan diprediksi rupiah akan terus terdepresiasi pada beberapa bulan ke depan.
            Dalam kondisi seperti dijelaskan di atas, maka keberadaan pasar modal seperti halnya bursa efek dapat dijadikan salah satu alternatif pilihan investasi bagi calon investor yang ingin menanamkan dananya dalam bentuk saham atau pun obligasi. Lain halnya dengan investasi di sektor riil dimana investor mencari keuntungan melalui kegiatan produksi, dan laba usaha (profit) yang diperoleh berasal dari selisih antara total penjualan (total reveneu) di satu sisi dengan total biaya (total cost) di sisi lain. Di pasar modal seperti halnya bursa efek, keuntungan diperoleh melalui kegiatan transaksi jual beli (trading) produk pasar modal yang ditawarkan oleh bursa efek. Proses pencarian keuntungan dilakukan dengan membeli atau menjual produk (saham, obligasi dan produk lainnya yang ditawarkan di pasar modal.
            Ada dua jenis keuntungan yang dapat diperoleh investor ketika ia mengambil keputusan untuk melakukan investasi di pasar modal dalam bentuk pembelian saham. Pertama keuntungan dalam bentuk capital gain yakni selisih antara harga jual (sell price) dan harga beli (buy price) saham. Keuntungan diperoleh investor apabila harga jual saham (sell price) yang ia miliki lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga beli (buy price) yang ia keluarkan untuk memperoleh saham tersebut. Sebaliknya apabila harga jual saham (sell price) lebih rendah bila dibandingkan dengan harga beli (buy price) maka investor akan mengalami kerugian. Harapan terhadap keuntungan dalam bentuk capital gain menuntut kejelian calon investor dalam menganalisis probabilitas fluktuasi harga saham di masa yang akan datang. Kesalahan dalam melakukan analisis berkaitan dengan  harga jual dan harga beli saham akan memperbesar terjadinya risiko kerugian.
         Kedua, keuntungan dalam bentuk dividen. Saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan. Kepemilikan saham suatu perusahaan (emiten) oleh investor juga berarti kepemilikan perusahaan tersebut. Seorang investor yang dalam hal ini adalah pemilik saham, berhak menerima laba atau keuntungan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan operasionalnya. Biasanya pengumuman laba oleh manajemen perusahaan dilakukan setahun sekali pada setiap akhir tahun laporan keuangan. Ketika perusahaan memperoleh keuntungan (laba) dari kegiatan operasionalnya dan laba tersebut akan distribusikan kepada pemilik saham, terlebih dahulu dilakukan perhitungan penerimaan per lembar saham (earning per share), sehingga dapat diketahui berapa besarnya laba yang dibagikan untuk setiap lembar saham. Investor yang memiliki saham dengan jumlah relatif besar akan memperoleh dividenyang relatif besar. Demikian pula sebaliknya, semakin sedikit jumlah saham yang dimiliki maka dividen yang akan diperoleh juga semakin kecil. Artinya besar kecilnya dividen yang diperoleh oleh seseorang investor (pemilik saham) proporsional dengan jumlah (lembar) saham yang dimilikinya.
            Seiring dengan perkembangan di pasar modal di Indonesia seperti halnya Bursa Efek Indonesia (BEI), maka minat masyarakat untuk menanamkan dananya dalam bentuk kepemilikan saham semakin tinggi. Selain itu, adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya peluang investasi yang berlandaskan nilai-nilai syari’ah menjadi salah satu alasan bagi lahirnya pasar modal syariah di Indonesia. Pasar modal syariah dapat diartikan sebagai kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu, pasar modal syariah bukanlah suatu sistem yang terpisah dari sistem pasar modal secara keseluruhan. Secara umum kegiatan Pasar Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
         Pasar modal syari’ah dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang menjunjung tinggi dan mengutamakan prinsip-prinsip syariah ketika mereka ingin melakukan investasi di pasar modal. Artinya, bagi masyarakat yang memiliki kelebihan dana dapat mempertimbangkan pasar modal syariah sebagai salah satu alternatif pilihan untuk menginvestasikan dana mereka dengan tujuan memperoleh benefit atau manfaat finansial. Hal ini tentunya akan lebih bermanfaat bila dibandingkan dengan menyimpan dana dalam bentuk tabungan bisa, atau dirumah sehingga dana atau asset yang dimiliki tidak produktif sama sekali (iddle asset). Apalagi menurut ajaran Islam, investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan, karena dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan juga mendatangkan manfaat bagi orang lain, dan Al-Quran dengan tegas  melarang aktivitas  penimbunan (iktinaz) terhadap harta yang dimiliki.
          Dengan kehadiran pasar modal syariah, memberikan kesempatan bagi kalangan muslim maupun non muslim yang ingin menginvestasikan dananya sesuai dengan prinsip syariah yang memberikan ketenangan dan keyakinan  atas transaksi yang halal.  Dibukanya Jakarta Islamic Indeks (JII) di Indonesia pada tahun 2000 sebagai pasar modal syariah memberikan kesempatan bagi masyarakat umum/investor untuk menanamkan dananya pada perusahaan yang sesuai prinsip syariah.  Beragam produk ditawarkan dalam indeks syariah dalam JII seperti saham, obligasi, sukuk , reksadana syariah.
          Saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan. Konsep penyertaan modal dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Prinsip syariah mengenal konsep ini sebagai kegiatan musyarakah atau syirkah. Berdasarkan analogi tersebut, maka secara konsep saham merupakan efek tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Namun demikian, tidak semua saham yang diterbitkan oleh Perusahaan Publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh: (1) Perusahaan yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, dan (2) Perusahaan yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi ketentuan bahwa kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah antara lain tidak melakukan kegiatan usaha: (a) perjudian dan permainan yang tergolong judi, (b) perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa, (c) perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu, (d) bank berbasis bunga, (e) perusahaan pembiayaan berbasis bunga, (f) jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir) antara lain asuransi konvensional, (g) memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), (h) barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat, dan (i) melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).
          Sukuk merupakan istilah baru yang dikenalkan sebagai pengganti dari istilah obligasi syariah (islamic bonds). Sukuk secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata ”sakk” dalam bahasa Arab yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Sementara itu, Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) mendefinisikan Sukuk sebagai Efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyu’/undivided share) atas aset berwujud tertentu (ayyan maujudat), nilai manfaat atas aset berwujud (manafiul ayyan) tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan ada, jasa (al khadamat) yang sudah ada maupun yang akan ada, aset proyek tertentu (maujudat masyru’ muayyan), dan atau kegiatan investasi yang telah ditentukan (nasyath ististmarin khashah).
           Selain saham syariah dan sukuk seperti dijelaskan di atas, pasar modal syariah juga menawarkan Reksa Dana Syariah sebagai salah satu pilihan produk investasi bagi masyarakat/calon investor. Reksa Dana Syariah adalah reksa dana yang pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal. Reksa Dana Syariah sebagaimana reksa dana pada umumnya merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Sebagai salah satu instrumen investasi, Reksa Dana Syariah memiliki kriteria yang berbeda dengan reksa dana konvensional pada umumnya. Perbedaan ini antara lain terletak pada pemilihan instrumen investasi dan mekanisme investasi yang tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
           Dalam upaya mensosialisasikan keberadaan pasar modal kepada masyarakat, Bursa Efek Indonesia sudah membuka galeri investasi di beberapa provinsi di Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh. Keberadaan galeri investasi tidak hanya dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih mengenal pasar modal secara lebih baik, tetapi juga diharapkan mampu menarik minat calon investor untuk melirik pasar modal sebagai salah satu alternatif pilihan investasi. Salah satu galeri investasi di Provinsi Aceh adalah galeri investasi syari’ah tepatnya di Fakultas Muhammadiyah Banda Aceh. Galeri ini merupakan galeri investasi berbasis syariah yang pertama kali ada di Aceh. Di samping sebagai media edukasi untuk mahasiswa, dosen dan kalangan kampus lainnya agar memiliki pengetahuan mendalam tentang pasar modal, kehadiran galeri investasi syari’ah diharapkan mampu mendukung penerapan syariat Islam di Aceh, terutama dalam hal investasi di pasar modal. Apalagi provinsi Aceh mayoritas penduduknya muslim dan ingin menerapkan syari’at Islam secara khaffah dalam seluruh sendi kehidupan yang salah satunya berkaitan dengan persoalan muamalah. Pilihan terhadap produk pasar modal syariah seperti saham syariah dan Dana Reksa syari’ah misalnya, diharapkan menjadi keputusan yang tepat ketika ingin menginvestasikan dana di pasar modal. Mari kita mengenal pasar modal syariah secara lebih baik.
(Tulisan ini dimuat pada surat kabar mingguan Media Bongkar News, November 2013)
 
Penulis
960146_504954612906572_652409947_n
Khairul Amri, SE, M.Si
Mantan Direktur ASM-Nusantara Banda Aceh, sekarang menjadi Staf Lembaga Penelitian dan Pengkajian Manajemen Ekonomi Keuangan dan Perbankan (LPPM-Ekubank) Banda Aceh.  Email: amriconsulting@gmail.com
 
 
 
 
Sekretaris LPPM Ekubank
 
Dosen Politeknik Kutaraja Banda Aceh,  dan  Mantan Manajer Galeri Bursa Efek Syari’ah Unmuha Banda Aceh.  Email:poltekkutaraja.ac.id/syamsulrizal936@gmail.com
I

“Ini 2 Faktor Penyebab Nilai UN SMA Menurun”

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Serah Terima Hasil Ujian Nasional ( UN) jenjang SMA/MA/SMK kepada semua Dinas Pendidikan Provinsi pada hari Senin tanggal 30 April 2018 di Ruang Sidang Graha I, Jakarta. Dalam acara ‘Penjelasan Hasil UN Jenjang SMA dan SMK Tahun Pelajaran 2017/2018’ yang diadakan Kemendikbud hari ini (8/5/2018) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemendikbud, Totok Suprayitno, mengatakan bahwa secara umum terjadi penurunan rerata nilai UN, terutama untuk mapel matematika, fisika, dan kimia. Berdasarkan analisis Badan Peneliti dan Pengembangan, ada indikasi kuat bahwa penurunan rerata nilai UN disebabkan oleh dua faktor. Faktor norma Untuk UN 2018, memang dimasukkan beberapa soal dengan standar yang lebih tinggi dibanding UN Tahun 2017. Kesulitan ini tampak dialami oleh siswa2 di 50% sekolah, ditunjukkan dengan rerata nilai UN yang menurun.   Tapi nilai UN di 50% sekolah lainnya justru mengalami kenaikan. Secara agregat faktor kesulitan soal ini tampaknya berpengaruh kecil. Faktor perubahan moda ujian Pengaruh kedua ini dianggap lebih besar yakni perubahan dari Ujian Nasional Berbasis Kertas ( UNKP) Pensil ke Ujian Nasional Berbasis Komputer. Sekolah-sekolah yang semula UNKP dan berubah ke UNBK mengalami penurunan nilai (terkoreksi) sangat signifikan. Sekolah-sekolah dengan indeks integritas rendah (IIUN 2017) secara rerata terkoreksi nilainya (menurun) sebesar 39 poin. Bahkan ada beberapa sekolah yang rerata nilai UN-nya turun hampir 50 poin. “Hasil UN ini selanjutnya akan dianalisis untuk mendiagnosa topik-topik yang harus diperbaiki di setiap sekolah untuk setiap mata pelajaran UN. Hasil analisis tersebut akan didistribusikan ke semua Dinas Pendidikan untuk ditindaklanjuti dengan program-program peningkatan mutu pembelajaran,” tambah Totok Suprayitno Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Bambang Suryadi, menambahkan bahwa penyelenggaraan UN 2018 sudah berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan Prosedur Operasi Standar (POS) UN yang telah ditetapkan. “Sebagian besar siswa SMA (93%) dan siswa SMK (98%) telah melaksanakan UNBK, dengan relatif tertib dan lancar. Sebanyak 14,1% SMA, 20,3% MA, dan 12,2% SMK dari sekolah pelaksana UN menyelenggarakan UNBK dengan skema resource sharing,” jelas Bambang. Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Moch. Abduh, menerangkan bahwa pada tahun 2018, Indonesia menorehkan sejarah berhasil menyelanggarakan UN Berbasis Komputer kepada hampir 6 juta siswa yang tersebar di 59.467 sekolah. UN tahun 2018 juga menjadi awal mula penggunaan format soal isian singkat. Sementara itu, Dadang Sudiyarto, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan menjelaskan, “Pelaksanaan UNKP Tahun 2018 jenjang SMA/MA dan SMK diikuti oleh 197.606 peserta, yaitu 9 % siswa SMA/MA dan 2 % siswa SMK. Hasil UNKP Tahun 2018 terjadi perbaikan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) dari sekolah yang IIUN rendah naik menjadi IIUN tinggi, yaitu sekitar 40% dari sekolah dengan IIUN lebih dari 80%. Keadaan ini menunjukkan adanya perbaikan pelaksanaan UNKP.

 

5 PTN Paling Diminati di SBMPTN 2018

KOMPAS.com – Hari ini (8/5/2018) dilaksanakan ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018. Ujian tulis dilaksanakan secara serentak di 42 Panitia Lokal (Panlok) yang terdiri dari 85 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia. Ujian SBMPTN 2018 diikuti sebanyak 860.001 peserta terdiri dari peserta Ujian Tulis Berbasis Cetak (UTBC) 833.820 peserta dan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) sebanyak 26.181 peserta.  Berdasarkan data Panitia Pusat Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru PTN 2018, ada 5 PTN yang paling diminati pada SBMPTN tahun ini yakni: 1. Universitas Indonesia diikuti 52.591 peserta 2. Universitas Gadjah Mada 46.095 peserta 3. Universitas Padjadjaran 44.138 peserta 4. Universitas Brawijaya 36.468 peserta 5. Universitas Hasanuddin 35.253 peserta Baca juga: Hari Ini 74.927 ‘Pejuang SBMPTN’ Bertempur di Jakarta Dari sisi jumlah peserta, Kompas.com memperoleh konfirmasi dari sebagai berikut: 1. Panlok 30-Jakarta diikuti 74.927 peserta 2. Panlok 14-Medan diikuti 63.357 peserta 3. Panlok 50-Surabaya diikuti 60.727 peserta 4. Panlok 34-Bandung diikuti 56.069 peserta 5. Panlok 82-Makasar diikuti 51.800 peserta Kelompok ujian SBMPTN terbagi menjadi  jenis, yaitu: Kelompok Ujian Sains dan Teknologi (Saintek) Materi ujian meliputi Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA) dan Tes Kemampuan Dasar Sains dan Teknologi (TKD Saintek). Kelompok Ujian Sosial dan Humaniora (Soshum) Materi ujian meliputi Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA) dan Tes Kemampuan Dasar Sosial Humaniora (TKD Soshum) Kelompok Ujian Campuran Materi ujian meliputi TKPA, TKD Saintek, dan TKD Soshum. Data peserta berdasarkan kelompok ujian yakni 341.290 peserta Saintek, 359.140 peserta Soshum dan 159.571 peserta.

Membuka Akses Literasi Pembelajaran Digital

Saat ini platform pembelajaran secara online ( daring) telah menjadi alternatif baru bagi mereka yang membutuhkan pendampingan belajar secara informal.  Persoalan jarak, kesibukan atau biaya menjadi salah satu faktor layanan pembelajaran secara online mengalami pertumbuhan dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini. Quipper dan Bahaso, dua perusahaan teknologi pendidikan yang berdiri sejak 2015, ikut tergerak untuk memberikan lebih banyak lagi akses pendidikan secara digital kepada seluruh siswa Indonesia. Mengusung tema “Beasiswa untuk Negeri” dua perusahaan teknologi edukasi ini memberikan 1.100 akun pembelajaran daring yang dapat diakses secara gratis. Bentuk layanan bantuan belajar daring yang diberikan Quipper adalah Quiper Video yang ditujukan untuk pelajar SMP dan SMA. Sedangkan Bahaso memberikan layanan belajar bahasa asing yang dapat ditujukan oleh masyarakat umum. “Kami berkolaborasi (Quipper dan Bahaso) karena kami memiliki idealisme yang sama untuk memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan di Indonesia. Terlebih di era digital ini, sebagai alternatif media pembelajaran kami ingin anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mengaksesnya terutama bagi mereka yang terkendala waktu, jarak atau biaya,” jelas Tyvon Ari, pendiri dan CEO Bahaso dalam kesempatan konferensi pers “Beasiswa untuk Negeri” di Jakarta (14/5/2018)

Genjot Daya Saing Vokasi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah terus menggenjot perbaikan daya saing Indonesia. Hal ini termasuk peningkatan peringkat kemudahan berbisnis atau Ease of Doing Business (EoDB). Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengungkapkan, dalam hal daya saing, peringkat daya saing Indonesia pada periode 2017-2018 berada di urutan ke-36. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di peringkat ke-41 dari 137 negara. Adapun dalam hal kemudahan berusaha atau EoDB, peringkat Indonesia pada tahun 2018 adalah ke-72. Angka ini pun meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di urutan ke-91 dari 190 negara. Guna mengembangkan sektor industri sebagai salah satu unsur dalam meningkatkan daya saing, kemudahan berusaha, dan pertumbuhan ekonomi, maka perlu dikembangkan pula kompetensi sumber daya manusia (SDM) industri serta standar tenaga kerja. Baca juga : Lulusan SMK Banyak Menganggur, Bappenas Cek Ulang Sistem Pendidikan Vokasi “Daya saing Indonesia membutuh fondasi yang kokoh pada sisi sumber daya manusianya, di mana Presiden Jokowi telah meminta kepada kami untuk meningkatkan kualitas SDM industri,” kata Airlangga saat menyampaikan pidato kunci pada acara diskusi bertajuk “Membangun Industri Berkelanjutan” di Jakarta, Senin (27/11/2017). Airlangga menyatakan, pihaknya telah mendorong melalui 2 program yaitu Link and Match SMK dan Industri dan pelatihan 3 in 1. Model ini diadopsi dari sistem Jerman dan Swiss. Program ini telah dilaksanakan secara bertahap di beberapa provinsi, yakni di Jawa Timur, kemudian Jawa Tengah, lalu Jawa Barat dan terakhir di Sumatera bagian utara. Airlangga menuturkan, pihaknya menargetkan pada tahun 2019 akan ada 1 juta tenaga kerja industri yang tersertifikasi. Beberapa perusahaan pun berkomitmen tak hanya berupa investasi di Indonesia, namun juga memangun SMK dan mengembangkan investasi. Dengan demikian, kebutuhan SDM dapat terpenuhi saat fasilitas produksi rampung dibangun. Baca juga : Pemerintah Kaji Fasilitas Tax Allowance untuk Industri yang Kembangkan Pendidikan Vokasi Ia memberi contoh, perusahaan asal AS Kohler berkomitmen untuk berinvestasi di Cikarang, Jawa Barat. Tak hanya itu, Kohler juga menyatakan bakal membangun sarana pendidikan vokasi. Perusahaan elektronik asal Korea Selatan Samsung pun mendorong pendirian Samsung Institute dan menggandeng 22 SMK di Jawa Timur saja. Pun di Palembang, Sumatera Utara, perusahaan minuman Coca Cola bakal mempersiapkan pendirian 5 SMK. “Dengan link and match, kebutuhan tenaga kerja terpenuhi. Pabriknya juga akan menjadi teaching factory,” ujar Airlangga.

Lulusan Vokasi Butuh Dukungan dari Industri

JAKARTA, KOMPAS.com – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Imelda Freddy mengatakan, program pendidikan vokasi yang dijalankan pemerintah perlu didukung oleh pelaku industri nasional. Imelda menyebut, pendidikan vokasi seringkali terlupakan dan kurang mendapatkan perhatian. Padahal lulusan pendidikan vokasi memiliki skill dan keterampilan yang memadai di bidang tertentu. “Hal ini bisa menjadi nilai jual bagi para lulusannya. Dengan dukungan dari sektor industri, para lulusan pendidikan vokasi bisa menjadi pekerja terampil yang siap terjun di industri yang sesuai dengan keahliannya,” ujarnya melalui keterangan resmi, Kamis (22/2/2018). Saat ini, pemerintah sudah melakukan peningkatan terkait akses lulusan pendidikan vokasi ke dunia kerja melalui MoU antar lima kementerian yakni Kementerian Perindustrian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset Teknologi dan Penididikan, Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian BUMN). Baca juga: Antisipasi Revolusi Industri 4.0, Pemerintah Benahi Pendidikan Vokasi “Agar pendidikan vokasi dapat disalurkan pada sektor tertentu, diperlukan akses terhadap indsutri. Hal ini pun sebenarnya sudah diusahakan oleh pemerintah melalui MoU antara lima kementrian,” sebut Imelda. Dia menambahkan, saat ini masih ada sebagian dari masyarakat yang memandang pendidikan vokasi sebagai pendidikan kelas dua. Pendidikan akademik yang memberikan gelar S1 atau S2 dan seterusnya masih menjadi pilihan sebagian besar masyarakat. “Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab sulitnya lulusan pendidikan vokasi mencari pekerjaan,” ungkapnya. Selain itu, persyaratan perekrutan karyawan baru yang ditetapkan oleh perusahaan atau institusi lebih mengutamakan lulusan yang mengantongi ijazah akademik ketimbang ijazah pendidikan vokasi. “Oleh karena itu perlu adanya perubahan persepsi dari sisi perusahaan pemberi kerja dan juga masyarakat. Keberadaan lulusan pendidikan vokasi bisa menjawab salah satu tantangan globalisasi yaitu masuknya pekerja asing ke Indonesia,” katanya.