PELUANG INVESTASI DI PASAR MODAL SYARI’AH

PELUANG INVESTASI DI PASAR MODAL SYARI’AH

            Seiring dengan perkembangan pasar modal di Indonesia, peluang investasi bagi investor semakin luas. Jika investasi di sektor riil dianggap kurang menguntungkan disebabkan terjadinya perubahan indikator makro ekonomi seperti inflasi dan daya beli masyarakat misalnya, maka calon investor dapat mempertimbangkan pasar modal sebagai salah satu alternatif investasi demi mencari keuntungan. Apalagi dalam kondisi ekonomi global seperti saat ini, terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap $US dan tingginya laju inflasi dapat memberikan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan sektor riil. Para pengusaha akan dihadapkan pada risiko bisnis (business risk) yang relatif tinggi. Selain itu, kecenderungan kenaikan suku bunga kredit oleh bank umum sebagai akibat peningkatan suku bunga acuan (BI rate) oleh bank Indonesia, dipastikan akan meningkatkan biaya investasi (investment cost) yang harus dikeluarkan oleh dunia usaha, sehingga berdampak negatif pada pengembalian investasi di sektor riil. Ditambah lagi dengan laju inflasi yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat, maka permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor riil tentunya juga akan mengalami penurunan sehingga mempengaruhi prospek usaha. Depresiasi rupiah terhadap $US terus terjadi dan diprediksi rupiah akan terus terdepresiasi pada beberapa bulan ke depan.
            Dalam kondisi seperti dijelaskan di atas, maka keberadaan pasar modal seperti halnya bursa efek dapat dijadikan salah satu alternatif pilihan investasi bagi calon investor yang ingin menanamkan dananya dalam bentuk saham atau pun obligasi. Lain halnya dengan investasi di sektor riil dimana investor mencari keuntungan melalui kegiatan produksi, dan laba usaha (profit) yang diperoleh berasal dari selisih antara total penjualan (total reveneu) di satu sisi dengan total biaya (total cost) di sisi lain. Di pasar modal seperti halnya bursa efek, keuntungan diperoleh melalui kegiatan transaksi jual beli (trading) produk pasar modal yang ditawarkan oleh bursa efek. Proses pencarian keuntungan dilakukan dengan membeli atau menjual produk (saham, obligasi dan produk lainnya yang ditawarkan di pasar modal.
            Ada dua jenis keuntungan yang dapat diperoleh investor ketika ia mengambil keputusan untuk melakukan investasi di pasar modal dalam bentuk pembelian saham. Pertama keuntungan dalam bentuk capital gain yakni selisih antara harga jual (sell price) dan harga beli (buy price) saham. Keuntungan diperoleh investor apabila harga jual saham (sell price) yang ia miliki lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga beli (buy price) yang ia keluarkan untuk memperoleh saham tersebut. Sebaliknya apabila harga jual saham (sell price) lebih rendah bila dibandingkan dengan harga beli (buy price) maka investor akan mengalami kerugian. Harapan terhadap keuntungan dalam bentuk capital gain menuntut kejelian calon investor dalam menganalisis probabilitas fluktuasi harga saham di masa yang akan datang. Kesalahan dalam melakukan analisis berkaitan dengan  harga jual dan harga beli saham akan memperbesar terjadinya risiko kerugian.
         Kedua, keuntungan dalam bentuk dividen. Saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan. Kepemilikan saham suatu perusahaan (emiten) oleh investor juga berarti kepemilikan perusahaan tersebut. Seorang investor yang dalam hal ini adalah pemilik saham, berhak menerima laba atau keuntungan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan operasionalnya. Biasanya pengumuman laba oleh manajemen perusahaan dilakukan setahun sekali pada setiap akhir tahun laporan keuangan. Ketika perusahaan memperoleh keuntungan (laba) dari kegiatan operasionalnya dan laba tersebut akan distribusikan kepada pemilik saham, terlebih dahulu dilakukan perhitungan penerimaan per lembar saham (earning per share), sehingga dapat diketahui berapa besarnya laba yang dibagikan untuk setiap lembar saham. Investor yang memiliki saham dengan jumlah relatif besar akan memperoleh dividenyang relatif besar. Demikian pula sebaliknya, semakin sedikit jumlah saham yang dimiliki maka dividen yang akan diperoleh juga semakin kecil. Artinya besar kecilnya dividen yang diperoleh oleh seseorang investor (pemilik saham) proporsional dengan jumlah (lembar) saham yang dimilikinya.
            Seiring dengan perkembangan di pasar modal di Indonesia seperti halnya Bursa Efek Indonesia (BEI), maka minat masyarakat untuk menanamkan dananya dalam bentuk kepemilikan saham semakin tinggi. Selain itu, adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya peluang investasi yang berlandaskan nilai-nilai syari’ah menjadi salah satu alasan bagi lahirnya pasar modal syariah di Indonesia. Pasar modal syariah dapat diartikan sebagai kegiatan dalam pasar modal sebagaimana yang diatur dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UUPM) yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Oleh karena itu, pasar modal syariah bukanlah suatu sistem yang terpisah dari sistem pasar modal secara keseluruhan. Secara umum kegiatan Pasar Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
         Pasar modal syari’ah dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang menjunjung tinggi dan mengutamakan prinsip-prinsip syariah ketika mereka ingin melakukan investasi di pasar modal. Artinya, bagi masyarakat yang memiliki kelebihan dana dapat mempertimbangkan pasar modal syariah sebagai salah satu alternatif pilihan untuk menginvestasikan dana mereka dengan tujuan memperoleh benefit atau manfaat finansial. Hal ini tentunya akan lebih bermanfaat bila dibandingkan dengan menyimpan dana dalam bentuk tabungan bisa, atau dirumah sehingga dana atau asset yang dimiliki tidak produktif sama sekali (iddle asset). Apalagi menurut ajaran Islam, investasi merupakan kegiatan muamalah yang sangat dianjurkan, karena dengan berinvestasi harta yang dimiliki menjadi produktif dan juga mendatangkan manfaat bagi orang lain, dan Al-Quran dengan tegas  melarang aktivitas  penimbunan (iktinaz) terhadap harta yang dimiliki.
          Dengan kehadiran pasar modal syariah, memberikan kesempatan bagi kalangan muslim maupun non muslim yang ingin menginvestasikan dananya sesuai dengan prinsip syariah yang memberikan ketenangan dan keyakinan  atas transaksi yang halal.  Dibukanya Jakarta Islamic Indeks (JII) di Indonesia pada tahun 2000 sebagai pasar modal syariah memberikan kesempatan bagi masyarakat umum/investor untuk menanamkan dananya pada perusahaan yang sesuai prinsip syariah.  Beragam produk ditawarkan dalam indeks syariah dalam JII seperti saham, obligasi, sukuk , reksadana syariah.
          Saham merupakan surat berharga bukti penyertaan modal kepada perusahaan dan dengan bukti penyertaan tersebut pemegang saham berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari usaha perusahaan. Konsep penyertaan modal dengan hak bagian hasil usaha ini merupakan konsep yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Prinsip syariah mengenal konsep ini sebagai kegiatan musyarakah atau syirkah. Berdasarkan analogi tersebut, maka secara konsep saham merupakan efek tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Namun demikian, tidak semua saham yang diterbitkan oleh Perusahaan Publik dapat disebut sebagai saham syariah. Suatu saham dapat dikategorikan sebagai saham syariah jika saham tersebut diterbitkan oleh: (1) Perusahaan yang secara jelas menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, dan (2) Perusahaan yang tidak menyatakan dalam anggaran dasarnya bahwa kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan Prinsip-prinsip syariah, namun memenuhi ketentuan bahwa kegiatan usaha tidak bertentangan dengan prinsip syariah antara lain tidak melakukan kegiatan usaha: (a) perjudian dan permainan yang tergolong judi, (b) perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa, (c) perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu, (d) bank berbasis bunga, (e) perusahaan pembiayaan berbasis bunga, (f) jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir) antara lain asuransi konvensional, (g) memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan/atau menyediakan barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), (h) barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram li-ghairihi) yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan/atau, barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat, dan (i) melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).
          Sukuk merupakan istilah baru yang dikenalkan sebagai pengganti dari istilah obligasi syariah (islamic bonds). Sukuk secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata ”sakk” dalam bahasa Arab yang berarti sertifikat atau bukti kepemilikan. Sementara itu, Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) mendefinisikan Sukuk sebagai Efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyu’/undivided share) atas aset berwujud tertentu (ayyan maujudat), nilai manfaat atas aset berwujud (manafiul ayyan) tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan ada, jasa (al khadamat) yang sudah ada maupun yang akan ada, aset proyek tertentu (maujudat masyru’ muayyan), dan atau kegiatan investasi yang telah ditentukan (nasyath ististmarin khashah).
           Selain saham syariah dan sukuk seperti dijelaskan di atas, pasar modal syariah juga menawarkan Reksa Dana Syariah sebagai salah satu pilihan produk investasi bagi masyarakat/calon investor. Reksa Dana Syariah adalah reksa dana yang pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariah di Pasar Modal. Reksa Dana Syariah sebagaimana reksa dana pada umumnya merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Sebagai salah satu instrumen investasi, Reksa Dana Syariah memiliki kriteria yang berbeda dengan reksa dana konvensional pada umumnya. Perbedaan ini antara lain terletak pada pemilihan instrumen investasi dan mekanisme investasi yang tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.
           Dalam upaya mensosialisasikan keberadaan pasar modal kepada masyarakat, Bursa Efek Indonesia sudah membuka galeri investasi di beberapa provinsi di Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh. Keberadaan galeri investasi tidak hanya dimaksudkan untuk mengedukasi masyarakat agar lebih mengenal pasar modal secara lebih baik, tetapi juga diharapkan mampu menarik minat calon investor untuk melirik pasar modal sebagai salah satu alternatif pilihan investasi. Salah satu galeri investasi di Provinsi Aceh adalah galeri investasi syari’ah tepatnya di Fakultas Muhammadiyah Banda Aceh. Galeri ini merupakan galeri investasi berbasis syariah yang pertama kali ada di Aceh. Di samping sebagai media edukasi untuk mahasiswa, dosen dan kalangan kampus lainnya agar memiliki pengetahuan mendalam tentang pasar modal, kehadiran galeri investasi syari’ah diharapkan mampu mendukung penerapan syariat Islam di Aceh, terutama dalam hal investasi di pasar modal. Apalagi provinsi Aceh mayoritas penduduknya muslim dan ingin menerapkan syari’at Islam secara khaffah dalam seluruh sendi kehidupan yang salah satunya berkaitan dengan persoalan muamalah. Pilihan terhadap produk pasar modal syariah seperti saham syariah dan Dana Reksa syari’ah misalnya, diharapkan menjadi keputusan yang tepat ketika ingin menginvestasikan dana di pasar modal. Mari kita mengenal pasar modal syariah secara lebih baik.
(Tulisan ini dimuat pada surat kabar mingguan Media Bongkar News, November 2013)
 
Penulis
960146_504954612906572_652409947_n
Khairul Amri, SE, M.Si
Mantan Direktur ASM-Nusantara Banda Aceh, sekarang menjadi Staf Lembaga Penelitian dan Pengkajian Manajemen Ekonomi Keuangan dan Perbankan (LPPM-Ekubank) Banda Aceh.  Email: amriconsulting@gmail.com
 
 
 
 
Sekretaris LPPM Ekubank
 
Dosen Politeknik Kutaraja Banda Aceh,  dan  Mantan Manajer Galeri Bursa Efek Syari’ah Unmuha Banda Aceh.  Email:poltekkutaraja.ac.id/syamsulrizal936@gmail.com
I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *